Cerita Tentang Ramadhan di Pulau Seribu Pura, Menjadi Minoritas Tak Selalu Sulit Dan Sepi

Di Bali contohnya, bulan Ramadhan di Pulau Dewata ini selalu menjadi momen kebersamaan. Baik sesama umat muslim dan umat yang berbeda agama.

Eviera Paramita Sandi
Rabu, 27 April 2022 | 08:00 WIB
Cerita Tentang Ramadhan di Pulau Seribu Pura, Menjadi Minoritas Tak Selalu Sulit Dan Sepi
Pecalang atau petugas pengamanan adat Bali berjabat tangan dengan umat Muslim yang selesai melakukan salat Isya berjamaah di Masjid Agung Asasuttaqwa, saat melakukan patroli malam di Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1941 di wilayah Desa Adat Tuban, Badung, Bali, Kamis (7/3/2019). [ANTARA FOTO / Fikri Yusuf]

Saat menghadiri "bukber" itu, Anggota DPD RI Bambang Santoso, menjelaskan puasa itu bukan hanya menahan nafsu dengan tidak makan dan minum semata, tapi puasa juga bersifat rohaniah, artinya mata juga puasa dari melihat hal-hal yang tidak baik, telinga juga puasa, anggota tubuh lain juga begitu.

"Jadi, puasa bukan tidak makan saja, tapi ucapan juga baik. Ramadhan bukan hanya menjalankan ibadah puasa dan meyakini akidah yang bersifat baku dan langsung kepada Allah, namun juga bermakna menjaga hubungan baik dengan sesama, melalui lisan, mata, telinga, dan segala tindakan yang baik," katanya.

Ya, puasa Ramadhan itu menundukkan jasad dan jiwa/rohaniah untuk Allah, bukan hanya akidah/keimanan/keyakinan dan ibadah/ritual/spiritual, melainkan juga menjaga hubungan baik dengan sesama melalui akhlak/karakter menjadi manusia sesungguhnya dan utuh (jasad, jiwa, akidah, ibadah, akhlak). (ANTARA)

Baca Juga:Megaproyek Senilai Rp 34 Triliun Akan Dibangun di Gianyar, Masyarakat Diminta Bersiap

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak