Atas izin penguasa Jembrana yang beragama Hindu, I Gusti Arya Pancoran, kelompok Bugis ini diizinkan menempati daerah Loloan. Seorang ulama asal Melayu, Buyut Lebai, juga membantu penyebaran agama Islam di Bali. Makanya berada di kampung ini.
Penggunaan bahasa Bugis dan Melayu di Kampung Loloan masih sering terdengar hingga saat ini.
3. Kampung Pegayaman, Buleleng
Walau dihuni banyak muslim dari nenek moyang prajurit Bugis, namun Kampung Pegayaman masih mengusung kebudayaan Bali, seperti dengan adanya subak dan banjar. Yang berbeda hanyalah keberadaan rumah ibadah, pura berganti dengan masjid.
Nama orang-orang di sini bernuansa Bali yang berpadu dengan Islam, seperti Ketut Abdul Karim, Nyoman Abdurrahman, dan semacamnya. Salat Tarawih di sini diadakan sekitar pukul 22.00, sehingga para wanita bisa mengurus rumahnya terlebih dahulu.
4. Kampung Kecicang Islam, Karangasem
Nama 'kecicang' sendiri diambil dari nama bunga berwarna putih yang biasa dimasak oleh masyarakat setempat. Bukti peninggalan Islam di Kecicang Islamadalah Masjid Baiturrahman yang telah berdiri sejak akhir abad ke-17.
Masjid tersebut setinggi tiga lantai dan terus dipercantik setiap tahunnya. Tari Rudat yang merupakan akulturasi budaya Bali di Kecicang Islam dan Timur Tengah.