Dengan tidak menyalakan api. Maka, kita diajarkan untuk menahan lapar. Mengendalikan keinginan untuk menikmati melalui indria.
Selanjutnya, "amati lelungan" atau tidak boleh bepergian. Indria dibatasi agar duduk dan kontemplasi diri. Melihat ke dalam diri, bukan lebih sering melihat keluar. Terakhir adalah "amati lelanguan" atau tidak menikmati hiburan. Indria dilatih untuk seimbang dalam suka dan duka.
Pada saat Nyepi, indria diajarkan untuk menafikan keinginan untuk hanya menikmati suka dalam setiap laku kehidupan.
Ego Sosial
Apakah ego hanya terbatas pada ego pribadi? Meminjam istilah Sadguru, seorang tokoh Hindu termasyhur yang telah berkeliling hampir ke seluruh pelosok dunia memiliki konsep istilah "ego sosial". Adapun ego sosial adalah ego yang ada pada masyarakat. Untuk setiap hal kecil, kadangkala seluruh masyarakat menjadi kesal.
Misalkan saja pada musim panas di Amerika Serikat. Semua orang hampir tidak mengenakan apa-apa atau mungkin mereka mengenakan rok mini.
Katakanlah ada seseorang yang berpakaian lengkap. Maka, orang-orang akan marah: "Apa yang dia lakukan? Kenapa dia tertutup semua?".
Sebaliknya, di Asia, dimana adab ketimuran itu masih relevan dalam kehidupan, jika ada seseorang yang berpakaian minim, maka masyarakat (kebanyakan) biasanya akan marah. Jadi, itu adalah jenis lain dari ego. Ego sosial-lah yang menjadi marah, dan karma kita menjadi bagian dari karma kolektif.
Secara aplikatif, Nyepi saat ini hendaknya juga harus dimaknai sebagai "genjatan senjata" berperang melawan ego sosial, terutama di media sosial. Ego sosial harus diperangi karena keadaan medsos saat ini serba tak jelas.
Di lain sisi, bangsa Indonesia pernah dinilai memiliki tingkat keramahan tinggi. Tetapi, di ruang medsos malah terjadi fakta sebaliknya. Hendaknya harus menjadi renungan bersama.