Meski Diizinkan Gubernur Koster, Desa Adat Terbesar di Bali Ini Kompak Tak Buat Ogoh-ogoh

Sebanyak 50 banjar adat di Desa Adat Kerobokan sepakat tidak Nyomya ogoh-ogoh.

Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 25 Februari 2022 | 06:35 WIB
Meski Diizinkan Gubernur Koster, Desa Adat Terbesar di Bali Ini Kompak Tak Buat Ogoh-ogoh
ILUSTRASI - Umat Hindu mengarak Ogoh - ogoh dan sejumlah kesenian lain seperti Ondel - ondel, Barongsai juga Arakan Singa di sepanjang Jalan Cinere Raya, Depok, Jawa Barat, Rabu (6/3). [Suara.com/Arief Hermawan P]

Ketua Yowana yang berprofesi sebagai dokter itu juga memperjuangkan para STT banjar, baik yang ikut Nyomya maupun yang tidak berpartisipasi, untuk tetap mendapatkan dana kreativitas dari pemerintah sebesar Rp 10 juta untuk masing-masing STT.

"Teman yang sudah berjuang berusaha buat kita fasilitasi, teman-teman yang tidak buat juga kita fasilitasi kita pastikan mendapatkan dana kreativitas untuk mengganti kegiatan lain," tuturnya.

"Kami juga lobi ke pemerintahan dana ogoh-ogoh ke kreativitas, salah satunya untuk membuat aneka kegiatan seperti lomba ogoh-ogoh mini dan kegiatan terbaru pasca Nyepi," imbuh Yoga.

Yoga pun berkomunikasi dengan pimpinan kepolisian dari tingkat Polsek hingga Polda untuk bertukar informasi dan perkembangan di lapangan.

"Kita sharing data laporan perkembangan terkini ke kepolisian, sama-sama bertanggung jawab," ujar Yoga.

Ketua STT Satya Kencana, Banjar Tegallantang Kaja, Desa Adat Kerobokan, Gede Juliadi (32) mengkhawatirkan timbulnya kerumunan jika mengarak ogoh-ogoh meskipun di wewidangan banjar, meskipun dibatasi 25 peserta dan wajib swab antigen. Selain itu, kata dia, jika dibatasi 25 orang kurang euforia.

Sebab dari aturan pembatasan - pembatasan, meskipun yang hanya diperbolehkan mengarak hanya 25 orang, namun ogoh-ogoh di sisi lain bisa menarik perhatian masyarakat sekitar untuk menyaksikan yang ujung-ujungnya berpotensi terjadi kerumunan.

"Untuk tahun ini kami terlanjur tidak buat ogoh-ogoh karena peraturan berubah-ubah. Kita rapat terjadi kesepakatan, protokol ketat jadinya tanggung, euforia kurang dan tentu tanggung jawabnya besar sebagai panitia apabila terjadi pelanggaran prokes yang tidak dikehendaki sehingga sepakat tidak ikut Nyomya ogoh-ogoh," tutur dia.

Yoga dan anggota STT Satya Kencana terakhir membuat ogoh-ogoh di tahun 2020 lalu sebelum pandemi COVID-19 merajalela dan sudah tidak memiliki ogoh-ogoh karena telah dibakar tahun 2021 lalu saat masa pandemi COVID-19.

Sekali membuat ogoh-ogoh, dikatakannya menelan dana hingga Rp 40 juta, dan sebelum ada dana dari pemerintah tahun 2018 mereka mencari sumbangan ke usaha-usaha besar di seputar banjar.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak