"Modal awal nyaris nol. Karena kita putar hasil jualan produk pertama saat itu kurang lebih Rp280.000," jelasnya.
Kau-kau dihaluskan menggunakan amplas tanpa obat pengkilat sehingga mangkok maupun piring yang dihasilkan, aman dijadikan perabotan rumah tangga.
"Yang halus ini kami perlihatkan lagi ke Pakman Parta, beliau sangat mengapresiasi. Langsung order dan bantu promosi," kenang Alumni SMK Kerta Wisata Ubud ini.
Produksi ini akhirnya resmi dirintis sejak dua minggu terakhir. Selain anggota dewan, pesanan juga datang dari salah satu restoran di kawasan Canggu.
"Kami diminta membuat mangkok ukuran sedang untuk sajian es buah. Ada tambahan penyangga di bagian bawahnya," jelas Arik.
Baca Juga:Sepi Omzet, Pengrajin Tenun Jembrana Menjerit
Saat ini, Arik dkk juga sedang sibuk memenuhi pesanan. Ada datang dari perorangan untuk kebutuhan rumah tangga. Ada pula ada pengusaha yang berencana membuka usaha kuliner lawar babi.
"Yang dipesan untuk tempat komoh, paling kecil juga banyak diminati untuk minum arak," jelasnya.
Untuk mendapatkan kualitas bentuk kelapa yang bulat, Arik pilih membeli ke wilayah Payangan kelapa yang sudah dikupas.
"Di awal pernah beli kelapa utuh, setelah dikupas kebanyakan bentuknya lonjong. Kurang bagus dipakai mangkok atau piring. Setelah itu kita beli yang sudah dikupas, meskipun harganya sedikit lebih mahal. Yang penting dapat bentuk bagus," ujarnya.
Namun tidak seluruhnya juga berbentuk bulat. Perbandingannya, dari 100 biji hanya sekitar 10 kelapa yang bulat sempurna. Sisanya, dipastikan ada bentuk-bentuk unik.
Baca Juga:Dampak Covid-19, Pengrajin Ingka Jembrana Menjerit
Sehari, maksimal tiga sekawan ini bisa mengolah 20 pcs buah kelapa. Mulai dari pemotongan, mengelupas isi, menghaluskan manual hingga menghaluskan memakai mesin.