Tasmalinda
Minggu, 25 Oktober 2026 | 20:05 WIB
Ilustrasi pengangkutan ternak babi menggunakan kapal penyeberangan ASDP
Baca 10 detik
  • Penumpang kapal rute Kupang–Sabu–Sumba mengeluhkan bau menyengat dari kendaraan pengangkut babi yang mengganggu kenyamanan perjalanan.
  • Pemerhati transportasi Akbar Ikhramsyah mengusulkan kepada pemerintah untuk mengkaji pengadaan kapal khusus ternak yang didukung oleh anggaran APBN.
  • KSOP Kelas III Kupang bersama ASDP memperketat pengawasan muatan, kapasitas ruang, dan pengelolaan limbah ternak pada kapal penyeberangan.

SuaraBali.id - Keluhan penumpang kapal penyeberangan yang harus berbagi ruang dengan kendaraan pengangkut puluhan hingga ratusan ekor babi menjadi sorotan. Bau menyengat selama perjalanan rute Kupang–Sabu–Sumba memicu desakan agar pemerintah mengkaji penyediaan kapal khusus untuk mengangkut ternak.

Pemerhati transportasi laut Akbar Ikhramsyah mengapresiasi munculnya wacana tersebut. Menurutnya, pengadaan kapal khusus ternak melalui dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk PT ASDP Indonesia Ferry layak dikaji sebagai solusi jangka panjang.

Sorotan ini mencuat setelah video keluhan penumpang kapal penyeberangan di rute Kupang–Sabu–Sumba viral melalui akun Instagram @tvberitakota. Dalam pemberitaan tv-beritakota.com, penumpang mengeluhkan bau menyengat dari babi yang diangkut menggunakan kendaraan di kapal.

Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan penumpang, terutama ketika hendak makan, beristirahat, maupun menjalani perjalanan laut dalam waktu cukup lama.

Salah seorang penumpang bernama Abe mengungkapkan ketidaknyamanannya saat melakukan perjalanan menuju Sabu dan Sumba. Ia memperkirakan satu kendaraan dapat mengangkut sekitar 50 ekor babi. Jika terdapat empat kendaraan pengangkut dalam satu pelayaran, jumlah ternak yang dibawa bisa mencapai sekitar 200 ekor.

Banyaknya ternak tersebut dinilai memperparah bau yang menyebar di area kapal.

Keluhan serupa disampaikan seorang pengantar bernama Deby. Dalam laporan tersebut, ia terlihat mengalami mual hingga muntah setelah keluar dari kapal.

Keluhan itu kembali memunculkan persoalan mengenai pengaturan angkutan ternak di kapal penyeberangan yang juga melayani penumpang umum.

Di satu sisi, kapal penyeberangan berperan penting dalam mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi barang antarpulau. Di sisi lain, pengangkutan hewan membutuhkan penanganan khusus agar kebersihan, keselamatan, dan kenyamanan penumpang tetap terjaga.

Baca Juga: Jokowi Hadiri CFD Kupang, Warga Teriak: Bapak Kesayangan Pulang Kampung

Akbar Ikhramsyah menilai pemerintah dan regulator terkait perlu mempertimbangkan penyediaan sarana transportasi khusus untuk pengangkutan ternak.

"Pemisahan layanan angkutan ternak dan penumpang umum dapat menjadi salah satu opsi untuk mengurangi persoalan yang muncul selama pelayaran, termasuk bau, limbah, dan keterbatasan ruang," ujarnya.

Dukungan APBN untuk pengadaan kapal khusus ternak bagi ASDP menjadi salah satu usulan yang dapat dibahas lebih lanjut. Namun, realisasinya perlu mempertimbangkan kebutuhan armada, kelayakan anggaran, rute pelayaran, potensi muatan, serta mekanisme pengoperasian kapal.

Pengkajian tersebut juga perlu melibatkan operator kapal, regulator pelayaran, pemerintah daerah, serta pelaku usaha peternakan agar solusi yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Selain wacana pengadaan kapal khusus, pengaturan muatan ternak pada kapal penyeberangan RoRo juga menjadi perhatian.

Berdasarkan informasi dalam bahan pemberitaan, pada Kamis, 3 September 2026, KMT Lakaan mengangkut dua truk yang membawa sekitar 80 ekor babi. Pada Jumat berikutnya, ASDP juga mengangkut dua truk bermuatan babi menuju Sumba.

Load More