Muhammad Yunus
Selasa, 20 Oktober 2026 | 16:21 WIB
Ilustrasi dampak El Nino. [Orlando Sierra/AFP]
Baca 10 detik
  • BMKG memperkirakan peningkatan peluang curah hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat mencapai lebih dari 20 milimeter per dasarian pada 21 hingga 31 Oktober 2026.
  • Nindya Kirana dari Stasiun Klimatologi NTB menyatakan potensi hujan dengan probabilitas tinggi tersebut tersebar di Pulau Lombok, Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Bima.
  • BMKG mencatat fenomena El Nino kategori sangat kuat dan IOD positif masih terjadi, bersamaan dengan catatan kekeringan ekstrem di beberapa wilayah.

SuaraBali.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan ada peningkatan peluang hujan di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dari sebelumnya 0 hingga 10 milimeter menjadi lebih dari 20 milimeter per dasarian pada 21-31 Oktober 2026.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana mengatakan peluang terjadi hujan di Pulau Lombok dan Kabupaten Sumbawa Barat mencapai 50 hingga lebih dari 90 persen.

"Hujan lebih dari 20 milimeter per dasarian berpotensi terjadi di Kabupaten Sumbawa, Dompu, dan sebagian Kabupaten Bima," ujarnya di Mataram, Selasa 19 Oktober 2026.

Meski ada potensi hujan, BMKG tetap mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi potensi krisis air bersih.

Nindya meminta masyarakat untuk selalu mewaspadai kebakaran hutan, lahan, dan permukiman dengan tidak membakar sampah sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.

Ia menuturkan fenomena El Nino saat ini berada pada kategori sangat kuat dengan indeks anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 sebesar +3,08 derajat Celsius. Fenomena El Nino diprakirakan bertahan hingga awal 2027.

Adapun indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase positif dengan nilai +0,703 dan berpeluang bertahan hingga akhir 2026. Sementara itu, aliran massa udara di sebagian besar wilayah Indonesia masih didominasi angin timuran.

Pada 11-20 Oktober 2026 atau periode dasarian II Oktober, BMKG mencatat kondisi curah hujan di Nusa Tenggara Barat didominasi kategori rendah rentang 0 hingga 10 milimeter per dasarian dengan sifat hujan kategori bawah normal.

Kondisi tersebut sejalan dengan pemantauan Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) yang menunjukkan sebagian wilayah NTB mengalami kekeringan mulai dari kategori menengah selama 11-20 hari hingga kekeringan ekstrem lebih dari 60 hari.

Baca Juga: Modal Rp16 Miliar Amblas? Polda NTB Usut Dugaan Korupsi BUMD Lombok Timur

Hari tanpa hujan terpanjang tercatat di Kecamatan Belo dan Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, yang mencapai 155 hari dan masuk kategori kekeringan ekstrem akibat tidak ada hujan selama lima bulan.

Load More