Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 15:12 WIB
Ilustrasi antrean BBM di Bali. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Kelangkaan bahan bakar minyak di Bali pada Oktober 2026 menyebabkan pengemudi ojek online kehilangan pendapatan jutaan rupiah.
  • Pemerintah Provinsi Bali dan Pertamina menyatakan gangguan distribusi serta lonjakan permintaan memicu antrean panjang di berbagai SPBU.
  • Universitas Udayana menerapkan kuliah daring selama tiga hari akibat krisis bahan bakar yang mengganggu mobilitas warga.

SuaraBali.id - Bagi Handoko, pengemudi ojek online di Bali, bensin bukan sekadar bahan bakar. Pertalite dan Pertamax adalah modal utama untuk mencari nafkah.

Tanpa BBM, sepeda motornya tak bisa mengantarkan penumpang, pesanan tak bisa diambil, dan pendapatan keluarga ikut terhenti.

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Bali pada pertengahan Oktober 2026 membuat Handoko terpaksa berhenti bekerja selama tiga hari. Dalam kondisi normal, ia bisa mengandalkan penghasilan dari jalanan. Namun, ketika BBM sulit didapat, waktu dan tenaganya tak lagi bisa ditukar dengan uang.

Ia memperkirakan kehilangan potensi pendapatan hingga Rp900.000 selama tiga hari tidak bekerja.

“Kalau ojol kan bergantung sekali dengan BBM, sampai tiga hari kemarin saya nggak narik karena tidak ada bensin,” kata Handoko dikutip dari BBC News Indonesia, Sabtu (17/10/2026).

Handoko akhirnya mendapatkan bensin setelah mengantre lebih dari satu jam di SPBU Sunset Road, Kuta. Namun, bahan bakar yang diperolehnya tak mengembalikan pendapatan yang hilang selama berhari-hari.

Kisah Handoko memperlihatkan sisi lain dari persoalan BBM yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah pernyataan pemerintah dan Pertamina bahwa pasokan tersedia, rakyat kecil justru harus menanggung dampak langsung ketika distribusi tersendat dan antrean kendaraan mengular.

Bagi mereka yang menggantungkan hidup pada kendaraan, kelangkaan BBM bukan sekadar persoalan kenyamanan. Ini menyangkut kemampuan bekerja, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan mempertahankan penghasilan harian.

Stok Disebut Aman, Antrean Tetap Mengular

Baca Juga: Akibat Susah Dapat BBM, Pemprov Bali: Pegawai WFH dan Siswa Belajar Daring

Pertamina Patra Niaga menyatakan telah meningkatkan penyaluran Pertalite ke Bali hingga sekitar 3 juta liter per hari selama tiga hari terakhir, jauh di atas konsumsi normal yang berkisar 2,2 juta liter sehari.

Artinya, terdapat tambahan penyaluran sekitar 800.000 liter per hari untuk menyerap kebutuhan yang sebelumnya tidak terpenuhi di sejumlah SPBU.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan tambahan pasokan itu dilakukan untuk mengamankan ketersediaan energi bagi masyarakat.

Namun, peningkatan penyaluran tersebut belum serta-merta menghilangkan antrean panjang. Di sejumlah SPBU, masyarakat masih harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk memperoleh bahan bakar.

Nyoman, seorang karyawan swasta di Bali, mengaku mengantre lebih dari dua jam di SPBU Jalan Raya Kuta. Ketika mendekati pompa pengisian, ia baru menyadari berada di jalur Pertamax, bukan Pertalite yang hendak dibelinya. Karena sudah terlalu lama menunggu, ia memilih tetap mengisi bahan bakar agar bisa melanjutkan aktivitas.

“Pasrah saja, mau bagaimana lagi, sudah dua jam lebih antre. Jujur, kondisi ini sangat mengganggu karena membuat saya terlambat kerja,” ujarnya.

Load More