- Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan kewenangan penanganan warga Israel yang berbisnis berada di pemerintah pusat.
- Kemenimipas menjelaskan visa warga Israel sangat selektif karena memerlukan persetujuan berbagai lembaga keamanan dan kementerian terkait.
- Pemeriksaan petugas menunjukkan warga Israel yang berbisnis di Bali menggunakan paspor dari kewarganegaraan ganda mereka.
SuaraBali.id - Gubernur Bali, Wayan Koster buka suara terkait keberadaan Warga Negara Israel yang tinggal hingga membuka usaha di wilayah Bali.
Gubernur Koster mengatakan, terkait persoalan itu adalah kewenangan dari pemerintah pusat maupun imigrasi dan pihak kementerian terkait.
"Sepenuhnya merupakan kewenangan dari pemerintah pusat. Terutama keimigrasian dan kementerian lain yang terkait," kata Koster, saat melakukan konferensi pers di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, Kota Denpasar, Jumat (14/9) sore.
"Jadi dengan adanya isu ini. Saya akan berkoordinasi lebih lanjut bagaimana mencegah ke depan agar hal itu tidak terjadi kembali. Agar mekanisme hubungan antar negara itu sesuai dengan konstitusi," imbuhnya.
Ia menyebutkan, untuk soal itu pemerintah pusat yang bisa mengecek karena memiliki sistem terkait keberadaan warga Israel yang tinggal dan membuka usaha di Bali.
"Kalau pemerintah daerah kan tidak punya sistem untuk melakukan itu. Dan juga tidak ada kewenangan untuk melakukan itu," jelasnya.
Gubernur Koster juga mengaku, mengetahui adanya warga Israel tinggal dan buka usaha di Bali dari media atau pemberitaan.
"Persisnya saya belum tahu. Tapi melalui media saya nampak. Nah saya akan melakukan komunikasi dengan (Pemerintah Pusat)," ungkapnya.
Ia menegaskan, bahwa untuk penindakan persoalan itu bukan wewenang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali tetapi lembaga terkait.
Baca Juga: WNA China Diduga Dilecehkan Saat Bikin Video di Lovina Bali
"Yang menindak bukan provinsi, dia adalah lembaga yang punya kewenangan," ujarnya.
Gubernur Koster juga mengaku, bahwa soal warga Israel tinggal dan memiliki usaha di Bali, sejauh ini belum ada laporan masuk ke dirinya secara resmi tetapi isu itu sudah dia dengar.
"Laporan resmi tidak ada tapi isu ada," katanya.
Menurutnya soal hal itu, belum tentu berdampak atau mempengaruhi kepercayaan investasi di Bali sendiri.
"Belum tentu juga. Sepanjang tidak menimbulkan gaduh di masyarakat gitu. Ini terkait masalah hubungan antar negara, itu mesti disikapi dengan bijaksana supaya tidak mengganggu hubungan negara dan berimbas pada negara yang lain. Jadi saya kira pemerintah pusat sedang mematangkan itu," ujarnya.
Kemudian, terkait antisipasi agar itu tidak terjadi kembali, tentu sistem yang harus dibenahi,"Iya tadi antisipasinya sistem harus dibenahi," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
BRImo Makin Diminati, 49,7 Juta Pengguna Catat Transaksi Rp4.166 Triliun
-
Empat Jam Terombang-ambing di Laut, Tangis Aula Pecah Saat Menemukan Sahabatnya Tak Bernyawa
-
Update Kebakaran KMP Putri Yasmin: Korban Selamat Terus Bertambah, 39 Penumpang Baru Tiba di Lembar
-
KMP Putri Yasmin Terbakar, Tim SAR Temukan 5 Perahu Karet Tanpa Awak di Lokasi
-
Momentum Hari UMKM Nasional: BRI Dorong Ekonomi Desa Brilian