- Dua santri korban pembakaran di Pondok Pesantren Lombok Tengah kini berangsur pulih dan siap kembali mengikuti kegiatan belajar.
- Pemerintah Provinsi NTB memastikan seluruh biaya pengobatan medis dan pendampingan psikologis korban ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah.
- Kasus ini mendapatkan perhatian publik luas sehingga proses hukum berjalan transparan dan penanganan medis menjadi jauh lebih responsif.
SuaraBali.id - Kondisi dua santri yang menjadi korban pembakaran di Pondok Pesantren Rosyidatusshaulatiyyah Al Ibrahimy NW, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian membaik.
Pasca penanganan medis, para korban kini mulai bisa beraktivitas kembali meski belum sepenuhnya normal.
Salah seorang korban berinisial D mengaku kondisinya berangsur pulih, meski masih harus menjalani perawatan lanjutan.
Menjelang tahun ajaran baru, D menyatakan sudah siap untuk kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar bersama teman-temannya.
Kendati demikian, luka bakar yang mencapai hampir 80 persen pada tubuhnya menyisakan trauma mendalam. D tak menampik adanya rasa minder untuk kembali bersosialisasi.
"Sekolah di SMP dekat rumah. Sudah siap (sekolah). Sudah bisa (menulis), tapi masih ada rasa malu," ungkap D saat dimintai keterangan, Rabu (15/7/2026).
Hingga saat ini, proses pengobatan terus berjalan demi mengoptimalkan pemulihan fisik korban.
"Masih dilanjutkan proses pengobatannya. Sekarang ini saya mau ke rumah sakit, kalau rekan saya hanya mengganti perban," imbuhnya.
D menceritakan, dirinya baru saja kembali dari Jakarta untuk menghadiri undangan podcast di salah satu kanal YouTube.
Di sela kunjungan tersebut, ia sempat mengutarakan keinginannya untuk memiliki sepeda listrik.
Baca Juga: Kementerian HAM Kawal Pemulihan Santri Korban Pembakaran di Lombok
"Saya sempat minta sepeda listrik," tuturnya.
Selain menghadiri podcast dan Rapat Dengar Pendapat (RDP), momen di Jakarta juga dimanfaatkan korban untuk menyegarkan pikiran dengan mengunjungi pusat perbelanjaan dan Monumen Nasional (Monas).
Kedua korban bertolak ke Jakarta didampingi oleh pihak keluarga serta kuasa hukum.
Di sisi lain, salah satu orang tua korban mengapresiasi penanganan kasus yang menimpa anaknya.
Menurutnya, setelah kasus ini viral dan mendapat perhatian publik, proses hukum dan penanganan medis berjalan lebih responsif.
Selain biaya pengobatan yang sepenuhnya ditanggung, keadilan bagi korban kini dinilai lebih transparan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 14 Juli 2026, Banyak Teka-teki Akhirnya Terjawab
- Bagaimana Dody Hanggodo Memanfaatkan Kekuasaannya sebagai Menteri di Kementerian PU
- 11 Merek Sepatu Lari Buatan Indonesia yang Populer, Kualitas Lokal Tak Bisa Diremehkan
- Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Potensi Menang Praperadilan: Siasat Redam Konflik Polri-Kejagung
Pilihan
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
Terkini
-
Santri Korban Pembakaran Mulai Menulis Tapi Malu Masuk Sekolah
-
Bali United Datangkan Amunisi Baru Dari Brasil
-
Waspada! Modus Penipuan Lunas Hutang Beredar di Bali
-
Sambut HUT ke-70, Danamon Hadirkan Promo Menarik di Merchant Pilihan Bali
-
Kementerian HAM Kawal Pemulihan Santri Korban Pembakaran di Lombok