Eviera Paramita Sandi
Selasa, 26 Mei 2026 | 13:30 WIB
Pembeli buku di ajang Big Bad Wolf 2026 di Bali, Senin (25/5/2026) [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]
Baca 10 detik
  • Ribuan pengunjung memadati pameran buku Big Bad Wolf di Kuta, Bali, pada Senin 25 Mei 2026 untuk berburu buku.
  • Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa rendahnya tingkat literasi di Indonesia lebih disebabkan oleh minimnya akses buku yang terjangkau.
  • Penyelenggaraan acara ini menjadi kebutuhan strategis bagi warga Bali untuk meningkatkan daya saing melalui penguasaan literatur bahasa internasional.
Pengunjung pameran buku di mal Kuta, Bali, Senin (25/5/2026)

"Jika sebenarnya benar-benar ingin self-development dan aktualisasi untuk pengembangan diri, bacalah buku. Itu memang metode paling old school, paling tradisional, paling lama, tapi itu paling guarantee kalian. Karena kalian kalau cuma nge-scrolling doang itu nggak akan mengubah apa-apa sih," ujar Country Director BBW Indonesia, Martinus Wandi.

Perlunya Menggandeng Ekosistem Lokal

Di sisi lain, antropolog I Ngurah Suryawan memandang bahwa sejatinya literasi di Bali sendiri mulai tinggi di kalangan urban seiring dengan adanya ruang-ruang alternatif yang menyediakan sumber bacaan alternatif.

“Tapi memang secara keseluruhan, minat baca dan tingkat literasi menurut saya masih rendah. Pengaruh teknologi, minimnya ruang-ruang perspustakaan dan inisiatif untuk meningkatkan literasi tersebut di Bali,” ujarnya kepada Suara.com.

Baginya, sebagai penulis yang sudah menghasilkan banyak karya-karya kritis untuk Bali hingga Papua, penjualan buku dengan tema lokal untuk mendukung literasi ini punya pasarnya sendiri seperti halnya buku impor-internasional.

“Jadi saya kira tema lokal-global sekarang sudah ditinggalkan dan menuju keterhubungan bagaimana isu lokal tapi diperbincangkan dengan sangat global sekaligus kontekstual,” terangnya.

Ia pun menyambut positif apabila gelaran pameran buku seperti halnya BBW juga bisa turut serta menggandeng penulis lokal. Ia memandang ini sebagai kesempatan yang baik untuk  memperkenalkan isu-isu lokal Bali kepada publik internasional.

“Saya kira juga masalah yang harus ditangani adalah membincangkan isu-isu lokal Bali menjadi isu global,” katanya.

Adapun peran pemerintah daerah juga dinilai perlu memberikan keberpihakan lebih dan berkomitmen. Selama ini usaha yang ada seperti adanya ajang Widya Pataka di Bali sebenarnya perlu dilanjutkan. Selain itu juga ada inisiatif dari penerbit lokal untuk menggelar pameran contohnya untuk buku berbahasa Bali.

Baca Juga: Canggu Macet Parah, Wagub Bali Usul Taksi Laut dari Bandara

Suryawan berpendapat bahwa inisiatif sudah ada di warga, tinggal pemerintah meresponnya dengan baik dan memberi ruang terhadap inisiatif-inisiatif ini.

Load More