- Ribuan pengunjung memadati pameran buku Big Bad Wolf di Kuta, Bali, pada Senin 25 Mei 2026 untuk berburu buku.
- Antusiasme masyarakat membuktikan bahwa rendahnya tingkat literasi di Indonesia lebih disebabkan oleh minimnya akses buku yang terjangkau.
- Penyelenggaraan acara ini menjadi kebutuhan strategis bagi warga Bali untuk meningkatkan daya saing melalui penguasaan literatur bahasa internasional.
"Jika sebenarnya benar-benar ingin self-development dan aktualisasi untuk pengembangan diri, bacalah buku. Itu memang metode paling old school, paling tradisional, paling lama, tapi itu paling guarantee kalian. Karena kalian kalau cuma nge-scrolling doang itu nggak akan mengubah apa-apa sih," ujar Country Director BBW Indonesia, Martinus Wandi.
Perlunya Menggandeng Ekosistem Lokal
Di sisi lain, antropolog I Ngurah Suryawan memandang bahwa sejatinya literasi di Bali sendiri mulai tinggi di kalangan urban seiring dengan adanya ruang-ruang alternatif yang menyediakan sumber bacaan alternatif.
“Tapi memang secara keseluruhan, minat baca dan tingkat literasi menurut saya masih rendah. Pengaruh teknologi, minimnya ruang-ruang perspustakaan dan inisiatif untuk meningkatkan literasi tersebut di Bali,” ujarnya kepada Suara.com.
Baginya, sebagai penulis yang sudah menghasilkan banyak karya-karya kritis untuk Bali hingga Papua, penjualan buku dengan tema lokal untuk mendukung literasi ini punya pasarnya sendiri seperti halnya buku impor-internasional.
“Jadi saya kira tema lokal-global sekarang sudah ditinggalkan dan menuju keterhubungan bagaimana isu lokal tapi diperbincangkan dengan sangat global sekaligus kontekstual,” terangnya.
Ia pun menyambut positif apabila gelaran pameran buku seperti halnya BBW juga bisa turut serta menggandeng penulis lokal. Ia memandang ini sebagai kesempatan yang baik untuk memperkenalkan isu-isu lokal Bali kepada publik internasional.
“Saya kira juga masalah yang harus ditangani adalah membincangkan isu-isu lokal Bali menjadi isu global,” katanya.
Adapun peran pemerintah daerah juga dinilai perlu memberikan keberpihakan lebih dan berkomitmen. Selama ini usaha yang ada seperti adanya ajang Widya Pataka di Bali sebenarnya perlu dilanjutkan. Selain itu juga ada inisiatif dari penerbit lokal untuk menggelar pameran contohnya untuk buku berbahasa Bali.
Baca Juga: Canggu Macet Parah, Wagub Bali Usul Taksi Laut dari Bandara
Suryawan berpendapat bahwa inisiatif sudah ada di warga, tinggal pemerintah meresponnya dengan baik dan memberi ruang terhadap inisiatif-inisiatif ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida