Muhammad Yunus
Rabu, 20 Mei 2026 | 14:30 WIB
Proses produksi tahu di Kekalik Kota Mataram [Suarabali.id/Buniamin]
Baca 10 detik
  • Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan harga bahan baku produksi tahu bagi pelaku usaha di Kota Mataram.
  • Masrah selaku produsen di Kelurahan Kekalik tetap beroperasi meski margin keuntungan menurun akibat melonjaknya biaya operasional harian.
  • Kondisi ekonomi global dan ancaman banjir di lokasi produksi menjadi tantangan utama bagi keberlangsungan usaha tahu tersebut.

SuaraBali.id - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar berdampak ke berbagai sektor. Kondisi ini dirasakan sekali oleh para pelaku usaha tahu di Kota Mataram.

Dimana, kenaikan harga ini mengharuskannya untuk mengatur agar tetap mendapatkan keuntungan meski kecil.

Pelaku usaha tahu di Kelurahan Kekalik Kota Mataram, Masrah mengatakan semua bahan produk mulai dari kedelai hingga kayu bakar mengalami kenaikan.

Misalnya, untuk harga kedelai per kwintal yaitu sebesar Rp1,1 juta. Padahal sebelumnya bisa mendapatkan harga yang lebih rendah yaitu Rp1 juta.

Tidak hanya itu, untuk kayu bakar (sisa gergaji) yang selama ini digunakan juga mengalami kenaikan. Biasanya membeli dengan harga Rp12 ribu dan saat ini meningkat menjadi Rp17 ribu per karung.

“Air garam itu Rp50 ribu tapi sekarang Rp80 ribu. Belum garam Rp120 ribu menjadi Rp170 ribu per karung,” katanya.

Ditengah kenaikan harga semua bahan pokok ini, Masrah tetap beroperasi. Pasalnya, usaha produksi tahu merupakan satu-satunya usaha yang sudah dijalankan selama 25 tahun.

“Ini buat makan saja tidak seperti biasanya. Kalau kita tidak beroperasi apa yang kita kerjakan,” ungkapnya.

Masrah biasanya membeli kedelai yaitu sebanyak 1 ton untuk 10 hari produksi. Pasalnya, dalam sekali produksi yaitu sebanyak 1 kwintal.

Baca Juga: Atap Sekolah SMAN 7 Mataram Roboh, Empat Siswa Terluka

“Satu kwintal setiap hari dan habis,” katanya.

Jenis kedelai yang digunakan yaitu masih bergantung pada impor. Namun terkadang ia mencampurnya dengan kedelai lokal.

“Kita campur. Soalnya kalau kedelai lokal itu agak sulit untuk digiling,” katanya.

Selain kenaikan harga yang cukup mencekik pelaku usaha, ketersediaan kedelai yang juga menjadi kekhawatirannya. Pasalnya, ketersediaan kedelai impor ini tidak selalu ada.

“Kadang-kadang langka, kadang juga ada,” katanya.

Diterangkannya, harga tahu yang dijual yaitu sebesar Rp10 ribu per cetak. Namun hal ini juga belum termasuk harga plastic yang saat ini juga sangat mahal.

Load More