- Pelemahan nilai tukar rupiah menyebabkan kenaikan harga bahan baku produksi tahu bagi pelaku usaha di Kota Mataram.
- Masrah selaku produsen di Kelurahan Kekalik tetap beroperasi meski margin keuntungan menurun akibat melonjaknya biaya operasional harian.
- Kondisi ekonomi global dan ancaman banjir di lokasi produksi menjadi tantangan utama bagi keberlangsungan usaha tahu tersebut.
SuaraBali.id - Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar berdampak ke berbagai sektor. Kondisi ini dirasakan sekali oleh para pelaku usaha tahu di Kota Mataram.
Dimana, kenaikan harga ini mengharuskannya untuk mengatur agar tetap mendapatkan keuntungan meski kecil.
Pelaku usaha tahu di Kelurahan Kekalik Kota Mataram, Masrah mengatakan semua bahan produk mulai dari kedelai hingga kayu bakar mengalami kenaikan.
Misalnya, untuk harga kedelai per kwintal yaitu sebesar Rp1,1 juta. Padahal sebelumnya bisa mendapatkan harga yang lebih rendah yaitu Rp1 juta.
Tidak hanya itu, untuk kayu bakar (sisa gergaji) yang selama ini digunakan juga mengalami kenaikan. Biasanya membeli dengan harga Rp12 ribu dan saat ini meningkat menjadi Rp17 ribu per karung.
“Air garam itu Rp50 ribu tapi sekarang Rp80 ribu. Belum garam Rp120 ribu menjadi Rp170 ribu per karung,” katanya.
Ditengah kenaikan harga semua bahan pokok ini, Masrah tetap beroperasi. Pasalnya, usaha produksi tahu merupakan satu-satunya usaha yang sudah dijalankan selama 25 tahun.
“Ini buat makan saja tidak seperti biasanya. Kalau kita tidak beroperasi apa yang kita kerjakan,” ungkapnya.
Masrah biasanya membeli kedelai yaitu sebanyak 1 ton untuk 10 hari produksi. Pasalnya, dalam sekali produksi yaitu sebanyak 1 kwintal.
Baca Juga: Atap Sekolah SMAN 7 Mataram Roboh, Empat Siswa Terluka
“Satu kwintal setiap hari dan habis,” katanya.
Jenis kedelai yang digunakan yaitu masih bergantung pada impor. Namun terkadang ia mencampurnya dengan kedelai lokal.
“Kita campur. Soalnya kalau kedelai lokal itu agak sulit untuk digiling,” katanya.
Selain kenaikan harga yang cukup mencekik pelaku usaha, ketersediaan kedelai yang juga menjadi kekhawatirannya. Pasalnya, ketersediaan kedelai impor ini tidak selalu ada.
“Kadang-kadang langka, kadang juga ada,” katanya.
Diterangkannya, harga tahu yang dijual yaitu sebesar Rp10 ribu per cetak. Namun hal ini juga belum termasuk harga plastic yang saat ini juga sangat mahal.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Tolak Andrea Bocelli, GPCI Bakal Gelar Konser Besar Galang Dana Palestina
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Bisnis Elektronik Nasional Hadapi Tantangan di Tengah Gejolak Ekonomi Dan Pelemahan Rupiah
-
70 Tahun Jadi Bagian Sejarah Indonesia, Panasonic Gobel Rawat Memori Dan Komitmen Mitra
-
Anak-Anak Digerebek Bak Teroris, TGB: Bukan Ini Polisi yang Dicita-citakan Pendiri Bangsa!
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida