- Tumpukan sampah kini menjadi masalah utama yang mencemari lingkungan di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
- Warga kecewa karena truk sampah kompos terus berdatangan ke desa wisata yang dekat dengan tempat suci dan sumber air.
- Aktivitas pembuangan sampah tersebut menimbulkan aroma tidak sedap dan mengganggu kenyamanan warga yang berolahraga di area publik setempat.
SuaraBali.id - Masalah sampah di Pulau Bali belakangan ini menyita perhatian publik. Bahkan, masalah macet disejumlah titik di Bali seakan tersapu begitu saja.
Kini topik utamanya yang selalu muncul dan fyp di sosial media adalah soal penanganan sampah di Bali.
Seperti diketahui, sampah sudah menjadi objek yang tidak mungkin terlewatkan, dan hidup bersama kita setiap hari.
Bagaimana tidak, sebagai makhluk hidup, setiap harinya manusia akan menghasilkan sampah dari aktivitas sehari – harinya.
Seperti contohnya sampah rumah tangga, sampah plastik bekas makanan dan minuman, hingga sampah elektronik yang sudah tidak terpakai.
Semuanya bercampur menjadi satu, dan akan menumpuk jika tidak ditangani dengan baik. Seperti halnya di Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Desa tersebut yang dulunya dibanggakan warga sekitar karena menjadi Desa Wisata, kini berbalik 180 derajat.
Warga sekitar mulai mengeluhkan keadaan desa yang tadinya indah, kini menjadi desa kumuh karena penuh dengan sampah.
Salah satu akun sosial media Instagram @fvcknroll buka suara terkait fenomena tumpukan sampah di Desa Penarungan.
Baca Juga: Warga Bali Keluhkan Asap Bakar Sampah Ganggu Istirahat, Ini Bahayanya untuk Kesehatan
Pria pemilik akun tersebut mengaku kecewa dengan aktivitas para truk belakangan ini yang kerap masuk ke desanya membawa sampah kompos.
“Logikanya dimana?,” sebutnya.
“Desa Penarungan adalah desa wisata (sekarang sedang berkembang),” tambahnya.
Bukan hanya menjadi desa wisata, pria ini juga menyayangkan bahwa desa yang berdekatan dengan tempat suci seperti Pura Dalem, justru diperlakukan dengan tidak baik.
“Lokasi (Desa Penarungan) ini berdekatan dengan Pura Dalem, Pura Taman Beji dan sumber mata air,” urainya.
Menurutnya, sampah kompos yang dibiarkan menumpuk didesa tersebut baunya tentu akan mengganggu sekitar. Terlebih kawasan tersebut juga kerap digunakan untuk jogging dan olahraga masyarakat sekitar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Survei: 55 Persen Pemilih Prabowo Tidak Akan Memilihnya Kembali pada Pilpres 2029
- Presiden RI Minta Maaf ke Malaysia - Singapura Akibat Asap, Tapi Itu SBY...
- Rapor Prabowo-Gibran dan Para Menteri Anjlok, Purbaya yang Dicopot Justru Jadi Menteri Terbaik
- 5 Sabun Cuci Muka Retinol untuk Atasi Penuaan: Bikin Wajah Halus, Cerah, dan Kencang
- Pelembap Viva Hijau vs Kuning, Apa Bedanya? Ini Manfaat Keduanya untuk Wajah
Pilihan
-
KPK Kembali Gelar OTT: Amankan Sejumlah Pihak di BNPB
-
Ungkap Banyak Kasus Besar, Dirtipideksus Bareskrim Brigjen Ade Safri Justru Diganti
-
Inilah 5 Menteri yang Kinerjanya Paling Buruk Menurut Survei CELIOS
-
Polri Gerebek Sarang Narkoba Kampung Boncos dan Ambon! Operasi Masih Berlangsung
-
Prabowo Mau Ganti Panglima TNI dan Jaksa Agung Pekan Ini, Tapi...
Terkini
-
Bulan Inklusi Keuangan 2026, 1,06 Juta BRILink Agen Jadi Penggerak Literasi Keuangan
-
Berkedok Terapi Sakit Gigi, Pimpinan Ponpes Bergelar Tuan Guru di Sekotong Cabuli Santri
-
Antrean Mengular di SPBU Denpasar dan Badung, Polisi Turun Tangan, Gubernur Beri Penjelasan
-
BRI Dorong Ekonomi Lokal dan Sport Tourism Lewat MotoGP Mandalika 2026
-
Desa Adat Sade Bangkit dari Abu, 40 Rumah Adat Berhasil Dibangun Ulang