- Bupati Tabanan menerima sertifikat HAKI untuk Jineng dan Entil pada Rabu, 1 April 2026 di Wyndham Tamansari Jivva.
- Sertifikat HAKI mengakui Jineng sebagai ekspresi budaya tradisional serta Entil sebagai pengetahuan tradisional masyarakat adat Kabupaten Tabanan.
- Pengakuan HAKI ini bertujuan melindungi warisan budaya sekaligus mendorong pengembangan ekonomi berkelanjutan bagi produk lokal khas Tabanan.
SuaraBali.id - Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya menerima Sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Pengakuan Jineng dan Entil sebagai HAKI Komunal Ekspresi Budaya Tradisional dan Pengetahuan Tradisional.
Penerimaan sertifikat tersebut dalam momen Temu Wicara UMKM Terkait HAKI dan Manajemen Usaha yang digelar di Wyndham Tamansari Jivva Resort Bali, Kemarin Rabu, (1/4/26).
Sertifikat HAKI tersebut atas nama Masyarakat adat Kabupaten Tabanan dalam kategori ekspresi budaya tradisional dengan judul “Jineng”.
Jineng tidak hanya memiliki nilai budaya, namun mempresentasikan identitas Tabanan sebagai lumbung pangan Bali.
Selain itu, sebagai bentuk pengakuan pengetahuan tradisional, “Entil” juga memperoleh perlindungan HKI yang diterima langsung oleh Bendesa Adat Sanda, Pupuan.
Hal ini menegaskan bahwa potensi lokal Tabanan bukan hanya kaya secara budaya, namun memiliki nilai ekonomi tinggi yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Membahas dua nama yang menjadi sorotan saat ini, apa itu sebenarnya Jineng dan Entil?
Jineng
Jika dimaknai secara Bahasa kata Jineng sekilas seperti makanan tradisional. Namun, Jineng ini sebenarnya merupakan bangunan tradisional khas Bali yang biasa digunakan untuk menyimpan padi.
Baca Juga: Nostalgia! 5 Permainan Tradisional Lombok Masih Dimainkan Anak-anak di Era Smartphone
Orang biasa menyebutnya dengan lumbung. Jineng merupakan salah satu dari bentuk variasi lumbung yang ada di dalam kompleks sebuah rumah tradisional Bali.
Jineng ini terdiri dari 2 lantai yang memiliki 4 buah hingga 6 tiang, sehingga membentuk ruang segi empat.
Di lantai pertama berfungsi sebagai lumbung, kemudian dibagian bawahnya disebut bale yang digunakan sebagai ruang istirahat keluarga.
Bukan hanya menjadi tempat istirahat, di lantai bawah ini juga biasa digunakan sebagai tempat untuk membuat perlengkapan upacara, atau menenun dan kegiatan rumah tangga lainnya.
Atap Jineng ini terbuat dari bahan bambu atau kayu yang tipis, dengan atap yang melengkung.
Bentuk melengkung ini untuk menahan beban diatasnya seperti air hujan agar tidak mudah jatuh ke bawah. Sehingga mengurangi Risiko air merembes ke dalam yang dapat menyebabkan meningkatnya kelembapan di dalam lumbung.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Kearifan Lokal Tabanan Jadi Harta Karun, Jineng dan Entil Resmi Miliki Hak Paten
-
Viral Aksi Keji di Nusa Penida Bakar Anjing Layaknya Babi Guling, Niluh Djelantik Murka!
-
Jalan Bypass Prof Ida Bagus Mantra Gelap Gulita: Pengendara Takut Hampir Tabrak Orang
-
Bukan Cuma Buku dan Seragam, Lakukan 5 Hal Ini Agar Mental Anak Siap Hadapi Tahun Ajaran Baru
-
Tips Sukses Hadapi Pembelajaran Jarak Jauh, Agar Tak Gagap Digital!