- Tradisi Ogoh-ogoh Bali berasal dari kata "ogah-ogah" yang melambangkan Bhuta Kala atau energi negatif alam semesta.
- Kemunculan tradisi ini sekitar akhir 1970-an hingga awal 1980-an, berevolusi dari pererai sederhana menjadi patung raksasa modern.
- Pengarakan dan pembakaran Ogoh-ogoh melambangkan penetralisiran energi negatif sebelum umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi.
SuaraBali.id - Perayaan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sudah menjadi tradisi umat Hindu yang dilakukan setiap tahunnya.
Membahas soal Nyepi, pasti tidak jauh dengan tradisi Ogoh – ogoh. Bahkan, kini momen festival Ogoh – Ogoh saat Nyepi yang mampu menarik perhatian.
Bukan hanya penduduk lokal saja, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Bali pun tertarik melihatnya.
Bagaimana asal usul adanya sebutan ogoh – ogoh ini, hingga akhirnya menjadi sebuah festival yang menarik perhatian?
Di Pulau Bali, ogoh – ogoh menjadi tradisi budaya yang paling dinanti. Pasalnya, bukan hanya sekedar patung raksasa yang diarak, namun dibaliknya terdapat makna yang mendalam.
Ogoh – ogoh ini berasal dari kata “ogah – ogah” yang berarti mengguncang. Patung/boneka raksasa ini diartikan sebagai sosok yang melambangkan Bhuta Kala.
Bhuta Kala sendiri merupakan simbol kekuatan – kekuatan negatif di alam semesta, baik itu roh jahat, sifat – sifat buruk manusia, maupun segala sesuatu yang mengganggu keseimbangan dan keharmonisan hidup.
Kemunculan tradisi ogoh – ogoh ini sekitar akhir tahun 1970-an hingga awal 1980 an. Awalnya, Masyarakat Hindu Bali memiliki tradisi mengarak pererai (pajangan) saat upacara Bhuta Yadnya.
Namun, bentuknya masih sangat sederhana dan belum semegah ogoh – ogoh modern seperti saat ini.
Baca Juga: Bali Tutup Total Jalur Mudik 24 Jam Saat Nyepi, Pemudik Bisa Titip Kendaraan di Sini
Masyarakat Bali akhirnya terinspirasi dari tradisi Barong Landung atau patung – patung raksasa dalam tradisi Tionghoa yang ada di Bali.
Mulanya, para pemuda Bali menggunakan bahan tradisional yang mudah dicari seperti bambu dan kertas.
Namun, kini seiring berjalannya waktu, pemuda – pemuda Bali lebih kreatif dan inovatif dalam membuat ogoh – ogoh. Seperti menggunakan Styrofoam, gabus, hingga serat fiber untuk menciptakan detail yang sempurna.
Bahkan, kini ogoh – ogoh hadir bukan hanya sebagai karya 3 dimensi saja, melainkan dibuat seperti hidup dengan gerakan tangan, mata hingga mulutnya.
Tahapan Membuat Ogoh – ogoh
1. Perencanaan
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
BRImo Hadirkan Cara Baru Berinvestasi, Transfer Dana Sekaligus Beli Emas Secara Otomatis
-
Harga Daging Sapi di Mataram Tembus Rp145 Ribu, Jagal RPH Majeluk Mogok Massal
-
Warga Bali Ramai-Ramai Serahkan Monyet Ekor Panjang ke BKSDA
-
BRI Hadirkan Reksa Dana USD Batavia, Investasi Global Kini Bisa Lewat BRImo
-
Wisatawan Austria di Balik Megahnya Pawai Pembukaan PKB 2026: 'Saya Tidak Peduli Panas!'