Muhammad Yunus
Minggu, 15 Maret 2026 | 10:29 WIB
Ogoh – ogoh menjadi tradisi budaya yang paling dinanti saat Nyepi [SuaraBali.id/Istimewa]
Baca 10 detik
  • Tradisi Ogoh-ogoh Bali berasal dari kata "ogah-ogah" yang melambangkan Bhuta Kala atau energi negatif alam semesta.
  • Kemunculan tradisi ini sekitar akhir 1970-an hingga awal 1980-an, berevolusi dari pererai sederhana menjadi patung raksasa modern.
  • Pengarakan dan pembakaran Ogoh-ogoh melambangkan penetralisiran energi negatif sebelum umat Hindu menyambut Hari Raya Nyepi.

Dalam perencanaan ini dilakukan untuk Menyusun ide berupa sketsa ogoh – ogoh.

Para pemuda akan mendiskusikan tema yang diangkat beserta bentuk ogoh – ogohnya.

Mereka akan terlebih dahulu membuat sketsa detail seperti ekspresi wajah dan atribut yang akan dipasang.

2. Membuat Rangka

Setelah tema dan sketsa ogoh – ogoh sudah ada, para pemuda akan mulai membuat rangka sebagai fondasi.

Rangka tersebut harus kuat dan seimbang agar ogoh - ogoh tidak mudah roboh.

3. Membentuk Badan

Setelah membuat rangka, mulai dengan mengisi rangka seperti dengan bahan Styrofoam atau kertas.

Tahapan ini menjadi paling krusial, karena membentuk detail – detail otot, kuku, ekspresi wajah hingga ornamen pakaian.

Baca Juga: Bali Tutup Total Jalur Mudik 24 Jam Saat Nyepi, Pemudik Bisa Titip Kendaraan di Sini

4. Pengecatan

Ogoh – ogoh akan diberi warna sesuai dengan tema dan karakter ogoh – ogoh. Biasanya, akan dicat dengan cat poster, akrilik, atau cat minyak.

Warna – warna yang digunakan biasanya warna mencolok dan berani untuk menunjukkan Kesan seram.

5. Finishing

Pada tahap finishing ini, ogoh – ogoh akan diberi sentuhan seperti hiasan mahkota, taring maupun rambut.

Dalam kreasi ogoh – ogoh modern akan diberi hiasan efek lampu atau gerakan mekanik tertentu. Hal ini untuk menambah dramatisasi.

Load More