- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik pers Indonesia yang disebutnya "Mingkem" (bungkam) karena kurang tajam mengkritik pemerintah.
- Pernyataan ini disampaikan pada acara Fun Run For Good Journalism 2025 di Universitas Atma Jaya Jakarta
- Jurnalis senior Hersubeno Arief balik mempertanyakan kesiapan pemerintah, termasuk Presiden Prabowo, menerima kritik tajam dari media.
SuaraBali.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belakangan ini seolah menyentil soal bungkamnya Pers terhadap berbagai penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah.
Purbaya menyebut bungkamnya para media tersebut dnegan bahasanya yang unik dan menohok yakni ‘Mingkem’ (Menutup Mulut).
Hal ini disampaikan di depan para pemimpin redaksi dalam acara Fun Run For Good Journalism 2025 yang digagas Forum Pemred di Universitas Atma Jaya Jakarta, Minggu (16/11/25).
Menanggapi hal tersebut, Hersubeno Arief sebagai jurnalis senior jiwanya mendadak terpanggil.
Hersubeno sontak menembak balik dengan mempertanyakan apakah pemerintah dalam hal ini termasuk Presiden Prabowo Subianto siap untuk menerima kritikan.
“Nah ini keren pernyataannya. Yang jadi pertanyaan kalau kemudian semua media melakukan itu (mengkritik), apakah siap pemerintah ini?,” ujar Hersubeno, dikutip dari youtubenya, Selasa (18/11/25).
“Apakah Pak Prabowo sendiri juga siap untuk dikritik secara tajam oleh pers? Hahaha,” imbuhnya.
Purbaya sebelumnya meminta media rajin mengkritik kebijakan pemerintah. Pasalnya, dengan kritik, diharapkan pemeritnah bisa mendapatkan masukan terutama dalam kebijakan ekonomi.
“Kalau Purbaya menyebut membuat ekonomi maksimal, korelasinya bahwa pers yang bebas menunjukkan sebuah negara itu demokratis. Dalam sebuah negara demokratis itu tentu saja semuanya itu lebih transparan, lebih terbuka dan sebagainya, Itu buat para investor tentu sangat menarik ya,” urai Hersubeno.
Baca Juga: Purbaya Sering 'Lapor' Rakyat, Siriana Yusuf: Menteri Komunikasi Rakyat
Berbanding terbalik, menurut Hersubeno apabila sebuah negara tidak demokratis dan tidak transparan, tentu akan membuat orang menjadi tidak tertarik untuk melakukan investasi di Indonesia.
“Tapi kalau sebuah negara tidak demokratis, semua tertutup tidak transparan, banyak sekali uang – uang di bawah meja (under table) ya orang (investor) tidak akan tertarik untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Hersubeno.
Menurut Hersubeno, media saat ini memiliki peluang sebagai jangkar kebenaran. Namun sayangnya, orang – orang yang berada dilingkar media masih menghadapi tekanan ekonomi sehingga tidak mampu mengambil posisi tersebut.
“Sesungguhnya era sekarang ini Pers itu punya peluang untuk menjadi jangkar kebenaran, tetapi tekanan ekonomi membuat mereka tidak mampu mengambil posisi itu,” jelas Hersubeno.
“Karena itu kritik Purbaya bahwa pers ‘Mingkem’ seharusnya menjadi alarm keras bagi ekosistem media dan demokrasi Indonesia,” tambahnya.
Di akhir kalimatnya, Hersubeno Kembali menegaskan dan mempertanyakan apakah pemerintah benar – benar siap untuk dikritik tajam oleh media.
Berita Terkait
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Simpel dan Kaya Khasiat, Ini Menu Takjil Unik dari Kurma
-
Jangan Tertipu! 5 Jenis Surat Tanah Wajib Anda Bedakan Sebelum Beli Rumah
-
Kunci Jawaban Ilmu Pengetahuan Alam Kelas X Halaman 214 Aktivitas 7.2
-
Mencari Jejak Penculik WNA Asal Ukraina: DNA Ibu Korban Cocok Dengan Bercak Darah
-
Waspada! 5 Risiko Mengerikan Jika Sertifikat Tanah Anda Masih Atas Nama Pemilik Lama