Muhammad Yunus
Rabu, 12 November 2025 | 16:09 WIB
Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting [Suara.com/Youtube Abraham Samad SPEAK UP]
Baca 10 detik
  • Ginting menyebut bahwa nantinya banyak kader partai politik yang pindah haluan
  • Elektabilitas Partai Gerindra sudah diatas 30 persen
  • Budi Arie disebut memilih meninggalkan Projo kemudian bergabung dengan Partai Gerindra

SuaraBali.id - Pengamat Komunikasi Politik dan Militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting mengungkapkan bahwa kini partai penguasa, yakni Partai Gerindra telah menjadi poros kekuasaan baru.

Bahkan Ginting menyebut bahwa nantinya banyak kader partai politik yang pindah Haluan dan lebih memilih bergabung dengan Partai Gerindra.

“Betul - betul Gerindra ini menjadi poros kekuasaan baru di Indonesia,” ungkap Ginting, dikutip dari Youtube Abraham Samad SPEAK UP, Rabu (12/11/25).

“Makanya seperti gula – gula, nanti nih akan banyak kader partai politik lain hengkang pindah ke Gerindra, lompat,” sambungnya.

Ginting blak – blakan mengungkapkan hal tersebut lantaran menurutnya kini elektabilitas Partai Gerindra sudah diatas 30%.

“Karena menurut saya ini elektabilitasnya sudah diatas 30% persen,” kata Ginting.

Seperti berbalik begitu saja, Ginting menyebut bahwa partai PDIP yang sudah berlangganan menjadi sosok penguasa, kini elektabilitasnya turun dibawah 20%.

“PDIP yang tadinya kira – kira 20% menurut saya sudah berkurang banyak, bahkan mungkin tersisa sekitar 13% - 15% dari sebelumnya 19% - 20%,” sebut Ginting.

Sementara itu soal isu bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi dengan Partai Gerindra, Ginting menilai bahwa trik tersebut hanya digunakan Budi untuk meminta perlindungan.

Baca Juga: Refly Harun: Langkah Budi Arie Gabung Gerindra Itu Pragmatis, Cari Perlindungan

“Jadi betul – betul harus bisa kita pahami, ini menjadi posisi tawar dia meminta perlindungan secara simbolik dengan mengemukakan kepada publik ‘saya akan ke Gerindra, saya diminta loh oleh presiden, hanya saya yang diminta’,” terang Ginting.

Ginting menilai bahwa kini Budi Arie sengaja meninggalkan Presiden ke 7, Joko Widodo (Jokowi) lantaran dianggap sudah tidak memiliki daya tarik politik yang tinggi.

Sehingga secara tidak langsung Budi Arie memilih meninggalkan Projo kemudian bergabung dengan Partai Gerindra.

“Dia (Budi) melihat bahwa Jokowi ini sudah tidak punya daya Tarik politik yang tinggi lagi,” sebut Ginting.

“Jadi secara institusional daya Tarik Jokowi sudah berkurang, walaupun secara politik dia belum mati. Kemudian secara financial juga kuat sekali, jadi Jokowi dianggap memang bukan lagi magnet structural politik yang bisa melindungi Budi Arie, yang bisa mengamankan, yang bisa mencarikan posisi kekuasaan, jadi betul – betul perlawan tapi pasti perpindahan Projo ke Gerindra merupakan gabungan antara strategi bertahan hidup, pragmatisme politik, kebutuhan perlindungan politik,” tambahnya.

Heboh Pindah Gerindra, Budi Arie Justru Klarifikasi soal Judol

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi Kembali menegaskan bahwa dirinya tidak terlibat dengan kasus Judi Online (Judol).

Menurut Budi semua proses hukum soal judol sudah berjalan dan semuanya telah divonis, sehingga secara tidak langsung dirinya terbukti tidak terlibat.

“Partai menyatakan Budi Arie akan terkena proses hukum judol, lah proses hukumnya sudah selesai, sudah divonis semuanya. Ada 15 apa 18 yang kena, detilnya saya tidak tahu, sekarang sampai Pengadilan Tinggi tinggal kasasi,” ujar Budi, dikutip dari youtube Akbar Faizal Uncensored, Senin (10/11/25).

Budi mengakui bahwa dirinya hanya diperiksa satu kali terkait judol tersebut dan dirinya terbukti tidak terlibat. Maka dari itu, Budi menyebut dirinya sudah diframing soal judol.

“semua proses hukum sudah dilakukan, saya hanya diperiksa sekali saja waktu itu di Bareskrim, saya BAP sumpah, mereka akhirnya setelah melihat berkas – berkas mereka simpulkan mentrea tidak ada, perintah baik lisan maupun tertulis juga tidak ada, ketiga tidak ada aliran dana, jadi ini framing,” urai Budi.

Budi kemudian menyebut bahwa siapa saja yang menuduh dirinya terlibat judol, maka orang tersebutlah yang justru terlibat.

“Siapapun yang munuduh (saya) ingat loh ini yang nuduh paling kenceng dia yang justru main,” ungkap Budi.

“Ini demi harga diri saya, keluarga dan anak – anak, waktunya harus dipulihkan,” tegasnya.

Budi menyarankan bahwa yang seharusnya diperiksa dan didalami adalah orang – orang yang sudah divonis, terkait kemana aliran dana tersebut.

“Yang justru harus diperiksa dan didalami itu aliran dananya kemana itu mereka – mereka itu. Jangan bilang ke saya,” ujar Budi.

“Pelaku – pelakunya itu sudah main sejak 2020. Dalamin dong, uangnya kemana mereka, pasti besar itu. Ya pasti ratusan, bahkan kalau diakumulasi semuanya bisa triliunan,” tambahnya.

Budi menegaskan bahwa dari awal pihaknya sudah memiliki prinsip tidak akan menafkahi keluarganya dengan hasil judol.

“Dari awal begini loh kita ini punya prinsip, saya sudah bilang saya tidak mau anak istri saya makan dan minum dari hasil judi, saya tidak mau,” aku Budi.

“Karena apa? Ini penghisapan terhadap rakyat, ini penipuan. Jadi semakin saya diframing, saya ini tinggal kuat – kuat aja, saya sudah yakin bahwa suatu saat akan terbongkar,” sambungnya.

Load More