- Pemerintah Prabowo-Gibran perlu fokus komunikasi soliditas & kerja nyata meredam spekulasi politik.
- Gibran harus proaktif membangun citra & legitimasi sendiri lewat kerja nyata di masyarakat luas.
- Masyarakat diimbau agar lebih kritis terhadap isu politik & tidak mudah terpengaruh spekulasi.
SuaraBali.id - Pengamat Komunikasi Politik dan Militer, Selamat Ginting buka suara soal isu posisi Presiden Prabowo Subianto yang akan digantikan oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Isu ini menguat di tengah masyarakat, karena banyak yang menduga bahwa Presiden Prabowo akan memimpin di 2 tahun pertama, mengingat kondisi kesehatannya.
Namun isu tersebut menurut Ginting tidak semudah itu untuk direncanakan, meskipun orang – orang dibalik Gibran sangat kuat dan hebat.
“Secara formal konstitusional, pergantian presiden tidak bisa dirancang begitu saja. Kita sekarang harus lihat motivasi politik dari isu bahwa presiden Prabowo kemungkinan akan berkuasa hanya 1 2 tahun saja,” ujar Ginting, dikutip dari youtube Abraham Samad, Jumat (17/10/25).
Menurut Ginting, isu tersebut kini akhirnya menggiring Masyarakat untuk berpikir bahwa Presiden ke 7 Joko Widodo (Jokowi) masih ingin menjaga pengaruh politiknya, meskipun sudah lengser.
“Isu ini kemudian orang langsung melihat Jokowi, bahwa dia ingin menjaga pengaruh politiknya didalam lanskap elite penguasa bahwa setelah lengser dari kursi presiden, dia tetap menjadi elite yang harus diperhitungkan, kendati tidak punya partai politik, atau malu – malu sebagai Pembina PSI,” urainya.
Ginting menyebut bahwa Jokowi kini masih berada ditengah politik pemerintahan Presiden Prabowo melalui anak sulungnya, Gibran.
Sehingga menurut Ginting, Gibran hanyalah sebuah formalitas nama yang disandingkan dengan Presiden Prabowo.
Sementara yang berperan aktif dan menjalankan semuanya menurut Ginting adalah Jokowi.
Baca Juga: Ray Rangkuti Bongkar Alasan Jokowi 'Nempel' Prabowo Sekarang: Bukan Lagi Soal Kebangsaan
“Gibran ini mengapa Jokowi masih berada di elite, karena Gibran ini dianggap sebagai perpanjangan tangan Jokowi di pemerintahan,” ujar Ginting.
“Namanya aja Gibran, tetapi sesungguhnya yang duduk di kursi itu adalah Jokowi,” imbuhnya.
Ginting kemudian mengatakan bahwa apabila Gibran dapat dengan mudah naik menjadi presiden tanpa pemilu maka akan sangat berbahaya.
“Jika Prabowo mundur lebih awal, kan Gibran otomatis akan naik menjadi Presiden. Dan itu otomatis tanpa pemilu, seperti Megawati menggantikan Gus Dur,” ujar Ginting.
“Nah itu Bahayanya disitu,” tambahnya.
Meski demikian, Ginting meyakini bahwa Presiden Prabowo bukanlah sosok yang mudah ditekan secara politik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sepatu untuk Jalan Kaki 20 Ribu Langkah, Empuk dan Tidak Cepat Pegal
- Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff
- Korupsi Rp18,7 Miliar, Wakil Bupati Indramayu Resmi Ditahan, Lucky Hakim Masih Bungkam
- Cara Menggunakan Minyak Zaitun Mustika Ratu untuk Wajah dan Rambut
- 7 Cara Membuat Pengharum Ruangan Wangi Tahan Lama Meski Rumah Tidak Pakai AC
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
3.764 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual dan Fisik di NTB dalam Enam Tahun
-
Tabanan Bali Diselimuti Kabut Putih Misterius, Ini Penjelasan Ilmiah BMKG
-
Pimpinan Ponpes di Lombok Barat Ajak Masyarakat Stop Beri Stigma Negatif
-
Menuju 131 Tahun, BRI Teguhkan Peran Sebagai Penggerak Ekonomi Rakyat
-
El Nino Menggila hingga 2027, Daerah Mana saja di NTB Bakal Segera Disiram Hujan?