- Mahfud MD: Proyek Whoosh ancam kedaulatan, utang & bunga besar, tak tertutupi tiket.
- Menkeu Purbaya tolak bayar utang Whoosh pakai APBN, salahkan BPI Danantara.
- Utang Whoosh terus bertambah, dulu Jepang 0,1% bunga, kini China 3,4%.
“Sesudah Jepang meminta kenaikan sedikit, oleh pemerintah Indonesia dibatalkan, dipindah ke China dengan bunga 2%. Bunga 2% tiba – tiba jadi 3,4% yang terjadi. Nah sekarang kita tidak mampu bayar,” sambungnya.
Mahfud berharap agar Purbaya dapat mencari Solusi untuk melunasi utang tersebut, sehingga tidak disita karena pailit.
“Sekarang tidak mampu bayar, Purbaya juga tidak mau bayar. Menurut saya benar Purbaya. Karena apa? Ini masalahnya sangat memberatkan bangsa. Kita membangun itu menghilangkan Pembangunan - pembangunan untuk rakyat yang lain, hanya disedot untuk ini,” terang Mahfud.
“Jadi betul Pak Purbaya, anda didukung oleh rakyat, jangan bayar Whoosh dengan APBN. Carikan jalan keluar agar tidak disita karena pailit, tetapi masalahnya selesaikan secara hukum agar tidak terjadi lagi kepada anak bangsa kita,” tambahnya.
Purbaya Tolak Bayar Utang Whoosh dengan APBN
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menolak membayar utang proyek Kereta Cepat Whoosh yang dioperasikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut Purbaya, tanggung jawab pelunasan utang tersebut seharusnya berada di bawah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Purbaya menyebut Danantara sebagai holding BUMN seharusnya bisa mengelola itu karena dividen sudah masuk dalam kasnya.
Menurutnya, struktur BUMN kini sudah dibawah Danantara langsung. Hal ini berbeda dengan periode sebelumnya dimana struktur BUMN lewat dividen berada di bawah Kementerian Keuangan melalui pos penerimaan negara bukan pajak (PNBP) berupa kekayaan negara yang dipisahkan (KND).
Baca Juga: Menteri Keuangan Sebut Direksi Pertamina Malas Lebih Senang Impor BBM
“Kan KCIC (PT Kereta Cepat Indonesia China) di bawah Danantara kan, kalau di bawah Danantara kan mereka sudah punya manajemen sendiri, sudah punya dividen sendiri yang rata – rata setahun bisa Rp 80 triliun atau lebih. Harusnya mereka manage dari situ, jangan ke kita lagi, karena kalau enggak ya, semuanya ke kita lagi, termasuk dividennya,” ungkap Purbaya.
Purbaya menilai bahwa tidak adil jika APBN harus ikut menanggung utang Whoosh. Pasalnya hasil penerimaan BUMN berupa dividen sudah dikelola Danantara.
“Jadi ini kan mau dipisahkan swasta sama government, ya jangan kalau enak swasta, kalau nggak enak government, saya pikir begitu,” tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
Operasi Penyelamatan Pendaki Malaysia di Rinjani, Helikopter Tembus Cuaca Ekstrem
-
Mahkamah Agung Ubah Vonis Mantan Bupati Lombok Barat Jadi Lima Tahun
-
Ilusi Literasi di Tengah Serbuan Buku Impor di Bali Dan Eksistensi Bacaan Lokal
-
18 Alfamart dan 7 Indomaret di Lombok Ditutup, Mendag Budi Santoso Buka Suara
-
Kepala Lapas Kerobokan Dinonaktifkan Karena Kasus Ini