- Desa Taro, Gianyar, Bali, adalah desa wisata dengan alam, budaya, dan spiritualitas.
- Desa ini terkenal dengan Legenda Lembu Putih, simbol Dewa Siwa yang disakralkan.
- Lembu Putih dibawa Rsi Markandeya, dirawat desa, dan digunakan dalam upacara adat.
Tetua daerah setempat menceritakan bahwa lahirnya ‘Desa Taro’ karena Rsi Markandya yang datang dari Jawa dan dalam tapanya melihat sinar dari Kawasan desa tersebut.
Sinar itulah yang kemudian menyebabkan Rsi Markandya datang dan hendak tinggal di Kawasan yang dulunya disebut Sarwada.
Sarwada merupakan singkatan dari Sarwa Ada (Serba Ada).
Desa ini kemudian berubah nama dan disebut sebagai Desa Taro.
Wilayah Desa Taro ini terdiri dari 14 Desa Adat yakni, Sengkaduan, Alas Pujung, Tebuana, Let, Pisang Kaja, Pisang Kelod, Patas, Belong, Puakan, Pakuseba, Taro Kaja, Taro Kelod, Tatag, dan Desa Adat Ked.
Kisah Lembu Putih Desa Taro
Salah satu keunikan yang dimiliki oleh Desa Taro ini adalah adanya Lembu Putih (Sapi Putih). Hewan ini bahkan sudah dianggap keramat.
Masyarakat sekitar, terutama warga Desa Pakraman Taro Kaja meyakini kesucian hewan tersebut.
Mereka tidak berani memelihara secara pribadi, apalagi membunuh hewan suci tersebut.
Baca Juga: BMKG Minta ke Pemprov Bali Hentikan Galian di Bukit, Jelang Musim Hujan
Seandainya ada sapi putih yang lahir dari sapi peliharaannya, ketika mencapai umur enam bulan pasti langsung diserahkan pada Desa untuk merawat.
Hal itulah yang membuat sapi putih di Desa Taro ini terus bertambah, hingga sudah mencapai 50 ekor lebih.
Dalam kesehariannya, Masyarakat sekitar ditugaskan secara bergilir untuk memberi makan sapi – sapi tersebut. Sehingga sapi – sapi tersebut benar – benar diperlakukan dengan Istimewa.
Selain disucikan, sapi putih ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti dan yang setingkat dengan upacara itu.
Sapi putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal atau tempat upacara sebanyak tiga kali. Upacara ini disebut dengan Purwa Daksina.
Untuk dapat menggunakan sapi di Desa Taro ini, pihak desa menarik ongkos kurang lebih Rp 600 ribu dengan 15 orang pendamping.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi