- Rocky Gerung dukung Mahfud MD jadi presiden, utamakan etikabilitas dan intelektualitas sebelum elektabilitas.
- Mahfud MD ditawari posisi Menko Polkam di Kabinet Prabowo, 7 September 2025, untuk jembatani TNI-Polri.
- Mahfud MD menolak tawaran Menko Polkam karena etika politik, tak berkeringat untuk Prabowo Subianto.
“Jadi waktu itu didalam pikiran saya hanya Mahfud MD yang lolos lulus etikability, lulus intelektuality, baru lulus electability,” ujarnya.
“Ke depan mestinya gitu prinsipnya,” tambahnya.
Mahfud MD Ditawari jadi Menko Polkam
Mahfud MD belakangan ini juga membuat pengakuan yang cukup mengejutkan.
Pihaknya mengaku mendapat tawaran untuk menduduki kursi strategis Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) di Kabinet Merah Putih pimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Lobi politik ini diakui oleh Mahfud terjadi pada Minggu, 7 September 2025, sehari sebelum akhirnya Presiden Prabowo mencopot Budi Gunawan sebagai Menko Polkam.
Mahfud mengaku seorang jenderal senior menghubunginya Ketika masih berada di Yogyakarta dan meminta segera terbang ke Jakarta.
Namun, pertemuan itu baru bisa terlaksana sehari setelah reshuffle diumumkan. Dalam pertemuan itu, sang jenderal membeberkan alasan mengapa nama Mahfud menjadi kandidat kuat untuk mengisi pos Menko Polkam.
“Dia bilang begini, ‘Pak Mahfud, ini Menko Polkam perlu orang yang bisa menjembatani TNI dan Polri. Diskusi – diskusi kami, kecenderungannya ke Pak Mahfud,” ujar Mahfud menirukan sang jenderal.
Baca Juga: Ijazah Jokowi dan Gibran Diragukan, Ikrar Nusa Bhakti: Just Say Katakan Bahwa Itu Ijazah Palsu
Mahfud MD sontak memberikan jawaban yang menusuk. Pihaknya mengaku memiliki standar etik yang tidak bisa dilanggar, terutama soal pembagian kekuasaan.
Menurut Eks Ketua Mahkamah Konstitusi ini jabatan di pemerintahan adalah hak bagi mereka yang benar – benar berjuang dan berkeringat.
“Yang berkeringat secara politik. Saya kan tidak,” akunya.
Mahfud mengakui bahwa pada Pilpres 2024, tenaganya terkuras untuk memenangkan dirinya sendiri bersama Ganjar Pranowo, bukan untuk Prabowo.
Oleh karenanya, menerima jabatan dari mantan lawan politiknya dianggap sebagai Tindakan yang tidak etis.
“Yang berkeringat untuk Pak Prabowo kan banyak, sedangkan saya berkeringat untuk diri saya sendiri. Saya tidak mungkin ingin masuk ke situ, tidak etis,” ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar
-
Bahasa Sasak Terancam Hilang? 2,2 Juta Penutur Hadapi Tantangan Baru di Era Modern
-
Qlola Mobile BRI Hadirkan Kemudahan Pantau Keuangan Perusahaan secara Real-Time
-
Pria di Klungkung Berakhir Babak Belur Dihajar Saat Ngopi
-
Nikmati Promo Spesial Cashback BRI di Hari Sumpah Pemuda Pakai QRIS BRImo