Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 08 Agustus 2025 | 18:00 WIB
Kondisi Bali Saat Jepang Tiba Tahun 1942 [Ist/beritabali.com]

Konvoi truk-truk militer Jepang segera bergerak, membelah jalan-jalan pulau, menuju kota-kota di seluruh penjuru, termasuk Kota Negara di Jembrana.

Di atas truk-truk itu, duduk barisan tentara asing yang riuh bersorak-sorai pada penduduk yang mereka lewati.

Sebagian besar warga Bali hanya bisa berdiri di tepi jalan, terpaku dalam keheranan. Mereka menyaksikan sosok-sosok asing ini melaju ke arah barat.

Postur tubuh mereka lebih pendek, dengan mata sipit yang khas.

Mereka mengenakan seragam cokelat tua, namun yang paling mencolok adalah topi mereka.

Sebuah topi aneh dengan kain lebar menjuntai di bagian belakang, menutupi tengkuk.

Topi berekor ini selalu berkibar jika tertiup angin, menjadi penanda visual yang ganjil dari era baru yang baru saja dimulai.

Kala itu, di antara sorak-sorai tentara dan deru mesin truk, masyarakat Bali menjadi saksi bisu.

Satu penjajah telah pergi dengan meninggalkan bara, dan penjajah lain datang dengan kibaran topi berekor, membawa janji dan ancaman yang belum mereka pahami.

Baca Juga: Fase Purnama, Awas Banjir Rob di Bali

Load More