“Setiap bulan kita itu harus bisa menghasilkan (cari korban), ditarget harus sekian. Misal nggak mencapai target itu, ya tanggung sendiri risikonya,” aku Agus, dikutip dari youtube Jeg Bali, Kamis (10/4/25).
“Ada hukumannya, ada pemukulan, ada olahraga juga tapi nggak normal kayak disuruh lari selama 4 jam tanpa berhenti. Misal dalam 4 jam itu kita berhenti, langsung ditandai nanti sampai di kantor nerima hukuman disetrum atau dipukul,” tambahnya.
Siksaan itu seakan selalu membayangi mimpi mereka. Bahkan, ketika menjelang malam, keduanya hanya berfikir apakah besok masih hidup kembali.
“Semua pernah disetrum pakai alat setrum, dipukulin. Langsung ditempel alatnya paling sebentar 10 menit, langsung ke otak rasanya,” ucap Agus.
“Kita ini dari jam 4 sore kerja, nanti sudah jam 1 jam 2 malam baru kita kepikiran gak karuan. Apakah kita selamat nggak, apa kita bisa tetap hidup apa nggak,” sambungnya.
Setiap hari mereka dituntut harus ada penarikan uang dari korban yang disebutnya sebagai customer.
Apabila dalam sehari saja kosong dan tidak ada penarikan dari korban, maka hukuman menakutkan itu menghampiri mereka.
“Setiap hari harus ada penarikan dari customer (korban). Pernah sehari kosong nggak ada penarikan, paling ringan dipukul pakai kabel putih besar dilipat gitu kayak kayu, yang dipukul pantatnya, pukul burit di sana namanya, 50 kali bisa lebih juga,” akunya.
“Jadi kita di sana itu disiksa, bener-bener udah dijatuhin mental kita. Muka udah babak belur, badan lebam-lebam semua. Dari situ saya mikir mengikuti permainan mereka untuk jaga badan juga, karena kalau tidak diikuti saya akan mati. Sekuat-kuatnya orang, sepreman-premannya orang, setiap hari kena siksaan gitu siapa kuat,” urainya.
Baca Juga: Di Balik Kisah Mistis Dan Pilu Jembatan Tukad Bangkung, Begini Suasana di Bawahnya
Nengah mengakui bahwa mereka secara sengaja sudah dijual menjadi budak Cina.
Sehingga apapun yang dilakukan oleh bosnya adalah hak penuh mereka.
“Jadi kita di sana kan udah jadi budak Cina, udah dijual sama dia. Mau disuruh apa aja, mau dipukul mau disetrum ya terserah dia, karena kita udah dijual,” ucap Nengah.
“Pantat ini udah nggak biru lebam lagi, tapi hitam karena darahnya berhenti. Kita kerja di sana selama 8 bulan, digaji enggak, tapi disiksa iya,” tambah Agus.
Sementara itu soal gaji, Agus dan Nengah mengakui jika selama 8 bulan mereka bekerja di sana tidak menerima gaji.
Pasalnya, mereka mengakui tidak pernah bisa mencapai target sehingga hanya hukuman yang mereka dapat dan bukan gaji.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
Terkini
-
Kena OTT KPK, PAN Langsung Pecat Lalu Ahmad Zaini Sebagai Kader
-
Dua Tersangka Kasus Santri Terbakar Diperiksa Polisi
-
Penembak Sekuriti dan Warga Negara Maroko di Bali Punya Izin Senpi
-
Operasi Senyap KPK Berlanjut, Giliran Bupati Lombok Barat Ditangkap!
-
Balon Gas Meledak Saat Perayaan Hari Koperasi di Bali, 11 Orang Terluka