SuaraBali.id - Hari Raya Pagerwesi, yang jatuh pada Saniscara Wage Wariga, merupakan salah satu hari raya penting bagi umat Hindu di Indonesia.
Di balik kemeriahannya, terdapat tradisi-tradisi unik yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Tradisi-tradisi ini mencerminkan nilai-nilai luhur agama Hindu dan menjadi wujud rasa syukur serta pengabdian umat kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
1. Magehang Awak:
Tradisi ini memiliki makna simbolik sebagai upaya untuk "mengikat" diri dari pengaruh negatif dengan cara mengitari pekarangan rumah sambil membawa banten (sesaji). Umat Hindu meyakini bahwa dengan megehang awak, mereka dapat membersihkan diri dari aura negatif dan memperkuat ketahanan spiritual mereka.
2. Persembahyangan di Pura:
Umat Hindu mengunjungi pura untuk melakukan persembahyangan dan memanjatkan puji syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Di pura, mereka juga mendengarkan ceramah agama dari pemuka agama untuk memperdalam pemahaman tentang filosofi Pagerwesi dan bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
3. Meditasi dan Yoga:
Meditasi dan yoga menjadi bagian penting dalam perayaan Pagerwesi. Umat Hindu melakukan meditasi untuk menenangkan pikiran, memperdalam kontemplasi, dan mencapai pencerahan spiritual. Yoga, dengan gerakan-gerakannya, melambangkan keseimbangan antara raga dan jiwa, serta kesatuan manusia dengan alam semesta.
Baca Juga: Tantangan Baru SLB di Bali : Siswa Tuna Grahita Membludak
4. Menyantap Segehan dan Nasi Kuning:
Segehan adalah lima warna nasi yang melambangkan panca maha bhuta, yaitu lima unsur dasar alam semesta: tanah, air, api, angin, dan akasha (ruang). Nasi kuning melambangkan kemakmuran dan kesuburan. Menyantap segehan dan nasi kuning bersama keluarga dan kerabat menjadi momen untuk mempererat rasa persaudaraan dan saling berbagi berkah.
5. Membagikan Banten:
Banten yang telah dipersembahkan di pura kemudian dibagikan kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat sekitar. Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama. Dengan berbagi banten, umat Hindu meyakini bahwa mereka turut menyebarkan kebaikan dan keberkahan kepada orang lain.
6. Melakukan Upacara Mecaru:
Di beberapa daerah, umat Hindu melakukan upacara mecaru untuk menetralisir energi negatif dan menyeimbangkan alam semesta. Upacara ini biasanya dilakukan di persimpangan jalan atau tempat-tempat yang dianggap angker.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- 5 Sunscreen untuk Hilangkan Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 4 Mobil Keluarga Bekas 50 Jutaan: Mesin Awet, Cocok Pemakaian Jangka Panjang
- Purbaya Temukan Uang Ribuan Triliun Milik Jokowi di China? Kemenkeu Ungkap Fakta Ini
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
Pilihan
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto