SuaraBali.id - 10 mobil shuttle elektrik akan dioperasikan di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Pengoperasian itu ditujukan untuk mengurangi kemacetan di Ubud sekaligus menurunkan emisi karbon.
Pengadaan shuttle listrik ini adalah Kerjasama antara Yayaaan Toyota Mobility Foundation (TMF) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali.
Hal ini pun disambut baik pula oleh Dinas Perhubungan. Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Gianyar, I Nyoman Arianta menyebut kawasan Ubud memang memiliki kendala untuk mengurai kemacetan di wilayah tersebut.
Pasalnya, jalan yang berada di pusat ubud memiliki lebar 6-8 meter dan tergolong cukup sempit untuk kepadatan kendaraan yang besar di Ubud. Dengan kondisi seperti itu, pelebaran jalan seharusnya bisa menjadi solusi kemacetan.
Dari pantauan, kondisi lalu lintas di sekitar pusat Ubud pada siang hari memang padat merayap oleh kendaraan. Kondisi itu diperparah dengan kondisi jalan dua arah yang sempit namun tetap bisa dilewati oleh kendaraan besar seperti bus dan truk.
Namun, Arianta menilai Ubud dinilai memiliki sejarah sebagai kawasan wisata yang memiliki identitas kulturnya tersendiri yang harus dijaga.
“Kita harus menyiapkan infrastruktur, kalau kita bicara perluasan jalan dengan kondisi Ubud yang mana Ubud adalah sebuah desa yang secara sejarah sudah seperti ini dan inilah yang harus dilestarikan sebagai destinasi,” ujar Arianta saat ditemui di kawasan Ubud, Kabupaten Gianyar, Kamis (24/8/2023).
Maka dari itu, dia menilai pelebaran jalan di pusat Ubud tidak bisa diharapkan untuk menjadi opsi.
“Tentu pelebaran jalan menjadi sesuatu yang mustahil kalau kita bicarakan di pusat Ubud sendiri,” imbuhnya.
Baca Juga: Mobil Shuttle Elektrik Akan Beroperasi di Ubud
Pihaknya juga menyebut telah membuka dua kantong parkir yang dimaksudkan untuk menata kendaraan yang kerap parkir di pinggir jalan dan menjadi penyebab kepadatan. Kantong parkir yang dimaksud adalah sentral parkir di Monkey Forest Ubud dan sentral parkir di Pura Batukaru.
Namun, upaya itu belum sepenuhnya melancarkan lalu lintas di sekitar pusat Ubud. Hal itu membuatnya menilai pengoperasian shuttle bisa menjadi penyokong yang baik untuk mengurangi kemacetan di Ubud.
“Kalau tidak bisa memperlebar jalan ya kurangi mobil yang melintas di arus itu. Kita harus berdayakan, optimalkan penggunaan kendaraan publik khususnya shuttle,” pungkasnya.
TMF berencana untuk mengoperasikan 10 mobil shuttle elektrik di sekitar Ubud untuk mengurai kemacetan dan mengurangi emisi karbon. Shuttle itu nantinya dapat dinaiki dengan gratis selama masa uji coba.
Rencananya, shuttle itu beroperasi mulai Bulan September 2023 ini hingga Bulan Februari 2024 mendatang. Nantinya, jika upaya tersebut menghasilkan tren positif, rencananya penerapan hal serupa akan diterapkan di wilayah rawan macet lainnya di Bali.
Kontributor : Putu Yonata Udawananda
Berita Terkait
Terpopuler
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 5 Serum Wardah untuk Mengurangi Flek Hitam dan Garis Halus pada Kulit Usia 40 Tahun
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Plt Gubri SF Hariyanto Diminta Segera Tetapkan Kepala Dinas Definitif
Pilihan
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Jadi Bos BI, Purbaya: Bagus, Saya Mendukung!
-
Rupiah Tembus Rp16.955, Menkeu Purbaya: Bukan Karena Isu Wamenkeu ke BI
-
Rupiah Makin Jatuh Nilainya, Hampir ke Level Rp 17.000/USD
-
Prabowo Calonkan Keponakannya Untuk Jadi Bos BI
-
Suram! Indonesia Masuk Daftar 27 Negara Terancam Krisis Struktural dan Pengangguran
Terkini
-
Jadi Idola Gen Z, Ini Kelebihan Macbook Dibanding Laptop Lain
-
Tradisi Unik Jelang Ramadan di Tengah Umat Hindu Bali
-
Ingin Tetap Langsing Saat Puasa? Ini Tips Diet di Bulan Ramadan
-
Kepala Kantor BPN Bali Lawan Penetapan Tersangka Lewat Praperadilan
-
Status Gunung Ile Lewotolok Naik Jadi Siaga, Ribuan Gempa Tercatat