Pasalnya, dia mengkhawatirkan generasi muda Bali yang rela meninggalkan kampung halamannya dan tidak berniat untuk memulai atau mewarisi industri minuman alkohol yang mungkin dimiliki keluarganya.
“Ini secara ekonomis untuk pemberdayaan ekonomi ini hasilnya lebih besar dari salak itu sendiri. Sekarang, kalau tidak ada peringatan ini, siapa yang akan mau jadi petani tuak? Semua anak muda akan lari ke kota cari pekerjaan. Itulah tujuannya, untuk membuka mata kita kalau nilai ekonomis ini tinggi,” tuturnya.
Hampir tiga tahun sejak dilegalkan, Darma mencatat pada tahun 2022 dia berhasil menjual sekitar 2.500 botol arak dengan nilai penjualan yang mencapai Rp500 juta.
Darma bahkan sudah memiliki satu lagi merek arak lontar yang dia beri nama Pamlawa. Araknya kini sudah dipasarkan ke berbagai retail dan digunakan di beragam hotel, restoran, dan bar.
Baca Juga: Hari Arak Jangan Diartikan Sebagai Pesta Minum-minum
Darma juga mengingatkan bahwa memuliakan arak tidak hanya dengan cara mabuk. Baginya, arak adalah tradisi dan warisan budaya yang harus dinikmati dan diapresiasi.
“Itu kan sebenarnya memuliakan leluhur kita yang punya tradisi untuk membuat arak.Itu bagus, karena kita memuliakan hasil jerih payah leluhur kita. Apalagi ini warisan yang sangat bagus, jadi siapa yang akan mengingat kalau bukan kita,” imbuhnya.
Lebih Suka Arak Bali daripada Whiskey
Sementara itu, Kevin Darmono (24) merupakan penggemar minuman alkohol termasuk arak. Dia sudah menyicipi beragam jenis arak meliputi arak dari jaka, lontar, kelapa, beras, hingga yang sudah dicampur menjadi cocktail.
Begitu juga dari rentang harga arak yang pernah ia coba dari yang termurah Rp 25 ribu hingga yang paling mahal mencapai Rp150 ribu.
Baca Juga: Pembangunan KEK Sanur Diharapkan Tak Melupakan Warga Sanur Sendiri
Pria yang tinggal di Denpasar itu mengakui jika arak memiliki sebuah keunggulan dibanding jenis minuman alkohol lainnya. Selain harga yang lebih terjangkau, kelebihan lainnya yakni bahan dasar arak yang bervariasi yang juga bisa membuat penikmat arak mengeksplor perbedaannya.
Berita Terkait
-
Harga Cabai Merah di Denpasar Melejit Capai Rp 110 Ribu Per Kilogram
-
Cari Kembang Api di Denpasar? Ini Toko Legal dan Aman!
-
Jadwal Misa Natal 2024 Dan Tahun Baru Gereja Katedral Denpasar
-
Liburan Hemat di Denpasar dengan 10 Promo BRI, dari Kafe Hits sampai Belanja Gadget!
-
Senyum Bahagia I Nyoman Sukena si Pemelihara Landak Jawa Usai Divonis Bebas
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
Terkini
-
Thai Lion Air Kini Terbang dari Bali ke Bangkok, Jadwalnya 4 Kali Seminggu
-
Arus Balik dari Jawa ke Bali Mulai Meningkat, Akhir Pekan Diprediksi Jadi Puncaknya
-
7 Kolam Renang di Bali Murah Untuk Liburan Anak-anak
-
Dulu Turis Langsung ke Gili Trawangan, Kini Senggigi Dibidik: NTB Ubah Strategi Pariwisata
-
Meninggal di AS Saat Nyepi, Mahasiswi Asal Buleleng Ini Sempat Pesan ke Ayah Ibu Agar Tenang