SuaraBali.id - Memasuki pertengahan tahun 2022, angka kasus rabies meningkat di Bali. Bahkan, dari data yang dimiliki oleh Kesehatan Hewan Veteriner (Keswanvet) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali tercatat hingga per-30 Mei 2022 jumlah angka kasus rabies di Bali mencapai 293 kasus.
Menurut Kepala Sub Koordinator Keswanvet Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, I Made Artawan mengakui bahwa angka meningkat cukup tajam dibandingkan dengan tahun 2021 lalu yang hanya 239 kasus
“Kalau total tahun lalu kasus di angka 239 kasus, sekarang di tahun 2021, sekarang sudah 293 sampai 30 Mei kemarin,” kata dia, Selasa 31 Mei 2022.
Artawan pun mengaku dari data tersebut ada empat wilayah yang menjadi zona merah penyebaran kasus rabies yakni Kabupaten Buleleng, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Bangli.
“Ada 4 kabupaten yang zona merah, Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Bangli yang memang tahun ini agak meningkat,” ujarnya.
Untuk itu, pihaknya melakukan berbagai strategi untuk mencegah penyebaran rabies tersebut terjadi.
Salah satunya dengan melakukan vaksinasi massal terhadap hewan-hewan yang berpotensi menjadi penularan rabies.
“Angka rabies meningkat, memang terjadi peningkatan kasus di tahun 2022, kita dari awal sudah mempersiapkan strategi vaksinasi massal sebagai prioritas, ini yang dilakukan di kabupaten/kota, termasuk sosialisasi,” tegasnya.
Khusus untuk vaksinasi, pihaknya juga sudah melakukan pengadaan sebanyak 78 ribu dosis vaksin anti rabies baru dari pusat.
Baca Juga: Keluarga di Buleleng Jalankan Bisnis Haram Apotek Sabu, Pelanggan Capai Ratusan
Ia juga menjelaskan beberapa daerah yang menjadi zona merah tersebut menjadi sasaran utama dari vaksinasi tersebut.
“Untuk vaksin tahun ini kita di Provinsi ada pengadaan 78 ribu dosis yang berasal dari APBN dan beberapa kabupaten juga mengadakan vaksin rabies, seperti Karangasem, Buleleng, Tabanan, dan Gianyar,” papar Artawan.
“Yang 78 ribu ini masih dalam proses pengadaan, karena sempat ada gagal lelang pengadaanya,” imbuh dia.
Saat disinggung mengenai ketersediaan stok yang masih ada di Bali, ia mengakui masih memiliki stok 69 ribu dosis vaksin yang berasal dari stok tahun lalu.
Sehingga, pihaknya tidak khawatir dengan adanya kekurangan stok vaksin yang ada.
“Kita punya stok vaksin dari tahun lalu dihitung dari stok lalu 137 ribu, jadi itu yang dipakai vaksinasi yang sedang berjalan itu sampai kemarin sudah 68 ribu dosis yang sudah terpakai sekitar 13,11 persen,” ujarnya.
Berita Terkait
-
Imunisasi Anak Menurun Usai Pandemi, Kemenkes Soroti Kekhawatiran Efek Samping dan Hoaks
-
Viral Gerombolan Turis Israel Mencuri di Lombok, Bayar Uang Damai Rp48 Juta Lalu ke Bali
-
Kenapa Vaksin HPV Diberikan Sejak Anak-anak? Ini Penjelasan Kemenkes
-
Cara Asyik Menikmati Momen Healing dengan Sauna hingga Kuliner Sehat di Ubud Bali
-
Tolak Main di Eredivisie, Striker Bali United Jort van der Sande Menyesal Berkarier di Indonesia?
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Jelang Lawan Arema FC, Pelatih Bali United Keluhkan Masalah Ini
-
Kapal Angkut Turis Asing Meledak dan Terbakar di Nusa Penida
-
BRI Borong 4 Penghargaan di Top 20 Financial Institutions Award 2026
-
Penyelam Tewas saat Menembak Ikan, Sempat Berteriak Minta Tolong
-
Wisatawan Arab Saudi Mabuk Tusuk Ojol dan Sekuriti di Denpasar