SuaraBali.id - Warga Ukraina di Bali berpotensi mendapatkan serangan siber hingga tak bisa menarik uangnya di Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Hal ini karena bank di negara asalnya sedang perang.
Konsul Kehormatan Ukraina untuk Bali I Nyoman Astama mengatakan pihaknya akan melakukan antisipasi dampak serangan siber di negara Ukraina bagi warga Ukraina yang ada di Bali.
"Kami melakukan antisipasi karena akan ada dampak pada mereka di sini yang mana bank-bank di sana juga diserang siber, dan saat mereka (WN Ukraina) di sini melakukan transaksi di ATM itu tidak bisa,” kata Nyoman Astama saat ditemui di Kantor Konsulat Ukraina di Denpasar, Selasa (2/3/2022).
Ia berharap warga Ukraina masih bisa bertahan, dan keadaan bisa normal setelah ditindaklanjuti.
Namun hingga saat ini belum ada laporan dari warga Ukraina yang ada di Bali untuk meminta bantuan dalam hal penarikan uang tersebut. Demikan pula juga bantuan psikolog belum dilakukan, karena warga Ukraina yang ada di Bali memiliki rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang tinggi.
"Menurut informasi sementara ada yang tidak bisa narik uang, begitu perang, sibernya langsung diserang jadi akses mereka sudah ada yang tidak bisa narik uang (di Bali), tapi belum ada yang melapor dan kami berharap ini tidak akan lama," katanya lagi.
Nyoman Astama mengatakan tujuan mereka melakukan aksi damai ini ingin mengutarakan harapannya agar menghentikan perang dan perdamaian segera tercapai.
Dampak dari perang Ukraina tersebut, kata Nyoman Astama ada banyak sekali mulai dari sisi kemanusiaan, lalu infrastruktur dan psikologi hingga perekonomian.
Ingin Perang Disudahi
Salah satu perwakilan warga Ukraina Allisa mengatakan dalam aksi damai ini, baik warga Ukraina maupun Rusia yang berada di Bali hanya mengharapkan perdamaian. Tidak hanya warga Ukraina dan Rusia, namun WNA dengan berbagai kewarganegaraan ini juga bergabung untuk mendukung penghentian perang Ukraina.
Allisa mengatakan hanya ingin perang Ukraina ini berakhir dan tidak ada lagi perang. Menurutnya, tidak hanya warga Ukraina, ada juga dukungan dari warga Rusia agar tidak ada lagi penyerangan ke Ukraina.
"Who supports this action all my friends everybody who I know everyone against that. We want to stop war in Ukraine in any case," kata Allisa.
Sementara terkait kondisi keluarganya, Allisa mengaku masih bisa saling berkomunikasi dengan keluarganya. Namun tidak mengetahui sepenuhnya seperti apa kondisi untuk kebutuhan hidup di sana dan lainnya.
"Just big stress and just confusion don't know what to do and now we just you see we're doing what we can and we just try," tandasnya. (ANTARA)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Toyota Bekas yang Mesinnya Bandel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Pajak Rp500 Ribuan, Tinggal Segini Harga Wuling Binguo Bekas
- 9 Sepatu Adidas yang Diskon di Foot Locker, Harga Turun Hingga 60 Persen
- 10 Promo Sepatu Nike, Adidas, New Balance, Puma, dan Asics di Foot Locker: Diskon hingga 65 Persen
- Sheila Marcia Akui Pakai Narkoba Karena Cinta, Nama Roger Danuarta Terseret
Pilihan
-
Petani Tembakau dan Rokok Lintingan: Siasat Bertahan di Tengah Macetnya Serapan Pabrik
-
Bos Bursa Mau Diganti, Purbaya: Tangkap Pelaku Goreng Saham, Nanti Saya Kasih Insentif!
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026