Ditanya lebih jauh seperti apa aturan hak-hak perempuan dan UU itu nantinya, dia mengatakan bahwa hal ini akan menjadi lebih jelas setelah terbentuknya pemerintahan baru.
Berbicara kepada ABC sebelum Taliban mengambilalih Kabul, Suhail Shaheen mengatakan kaum perempuan di wilayah yang dikuasai Taliban sudah bekerja di klinik dan sekolah.
"Ada situasi perang... dalam situasi normal nantinya peran perempuan akan meningkat," ujar jubir Taliban ini.
Di beberapa daerah yang dikuasai Taliban, perempuan diizinkan bersekolah dan bekerja, tapi mereka harus mengikuti aturan berpakaian yang ketat dan sering dipisahkan dari pria.
Ada juga laporan yang saling bertentangan di daerah lain tentang anak perempuan yang ditolak bersekolah, dan perempuan diperintahkan untuk berhenti bekerja.
Petinggi Taliban mengatakan ketidakkonsistenan tersebut disebabkan oleh masalah keamanan dan berbagai tingkat penerimaan pendidikan anak perempuan di dalam masyarakat sendiri.
Di kota Herat, warga sipil melaporkan media, universitas, dan program hiburan semuanya telah ditutup sejak Taliban mengambil kendali minggu lalu.
Stasiun TV pemerintah menyiarkan informasi tentang UU baru dan aturan berpakaian.
Namun beberapa mahasiswi mengatakan mereka diberitahu bahwa universitas akan dibuka kembali dan mereka diizinkan untuk kembali, tapi dengan batasan baru.
Baca Juga: Presiden Afghanistan Bawa Kabur USD 169 Juta, Donald Trump Ngamuk
Seorang wanita terpelajar di kota Herat, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada ABC bahwa situasi ini merupakan "babak baru yang menantang". Semua orang, katanya, masih berusaha menyesuaikan diri.
Menurut dia, meskipun Taliban telah menyampaikan banyak janji dan "menunjukkan saat ini mereka berbeda", orang masih takut karena mengingat seperti apa mereka sebelumnya.
"Saya pikir mereka mencoba untuk berubah. Apakah itu baik atau tidak? Saya tidak tahu," katanya.
"Hanya waktu yang bisa menjawab apa yang akan terjadi di masa depan," tambahnya.
Namun dia mengatakan, ini bukan saatnya untuk menyerah, dan perempuan harus tetap bersatu memperjuangkan hak-hak mereka.
Ia menambahkan generasi muda yang tumbuh di bawah demokrasi dan modernisasi "layak mendapat dukungan penuh".
Berita Terkait
-
Dulu Kontraktor Kini 'Gelandangan', Kisah Jafar Ali Setahun Bertahan di Trotoar Depan UNHCR
-
Menurut Islam, Posisi Tempat Tidur yang Baik Menghadap ke Mana?
-
Penebusan Dosa Masa Lalu dalam Novel The Kite Runner Karya Khaled Hosseini
-
76 Tahun AS Berperang: Triliunan Dolar Habis, Jutaan Nyawa Melayang, Perang Iran yang Termahal
-
Update Perang Pakistan vs Afghanistan: BBM Langka, 160 Ribu Warga Terancam Kelaparan
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
- Jenderal Listyo Sigit Prabowo Ditetapkan Tersangka Penyadapan Presiden Prabowo
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Dua WN China Curi Uang Bule Australia Rp27 Juta di Penerbangan Jakarta-Denpasar
-
Karyawan Maskapai di Bandara Bali Tilap Duit Perusahaan Rp600 Juta untuk Judol
-
Pendidikkan Coding Wajib di 2027, Potensi Pengembangan AI Indonesia Dilirik Investor Polandia
-
2 Orang Meninggal Tiap 5 Menit, Kemenkes Temukan 3 Varian Baru TBC di Indonesia
-
Kronologi Kecelakaan Maut Avanza dan Vario di Lombok: Pasutri Tewas, Bayi Luka-Luka