SuaraBali.id - Beredar kabar yang menyebut Bali terancam krisis listrik pada 2021 mendatang. Kabar tersebut berhembus beberapa waktu belakangan.
Terkait hal itu, Senior Manager Perencana Perusahaan Listrik Negara (PLN) Bali, Putu Putrawan memberikan klarifikasi.
Secara garis besar, ia mengatakan kalau cadangan listrik di Bali pada tahun depan terbilang aman.
Putrawan menuturkan, pada musim pandemi ini terjadi penurunan beban puncak 30 persen dari daya terpasang pembangkit di Bali 1.443 MW dengan daya mampunya 1.305 MW sebesar 30 persen. Padahal beban puncak pada 2019 sebesar 918 MW dan Januari 2020 adalah 918 MW.
"Reserve margin 617 MW disini artinya margin 92%. Cadangannya sangat besar yaitu 617 MW di mana kondisi kelistrikan ini sangat aman dalam kondisi tahun 2020 ini," ujarnya dalam keterangan tertulis seperti dikutip dari Beritabali.com (jaringan Suara.com).
Kemudian untuk proyeksi pembangkit di tahun 2020 – 2029, ia memaparkan jika tidak terjadi pandemi maka beban puncak akan dikelola dengan tiga skenario yaitu optimis, moderat dan 2024 adalah pesimis.
"Artinya apa? Tiga skenario ini bahwa di tahun 2023 baru beban puncak 1.000 MW, kemudian di tahun 2023 secara moderat baru beban puncak 966 MW, kalau posisi pesimis adalah 974 MW baru berada di 2024," jelasnya.
Ia menegaskan kondisi skenario moderat cadangan listrik di Bali pada tahun 2021 sudah mencapai 50%.
"Reserve margin kita adalah 434 MW, itu artinya bahwa kondisi 2021 kita sangat aman terhadap cadangan daya 434 MW pembangkit listrik. Kemudian tahun 2023 sudah ada pembangkit green yaitu PLTG yang akan dibangun di selatan dengan cadangan daya 469 MW atau setara 48,6%," ungkapnya.
Baca Juga: Kawal Demo Omnibus Law di Jakarta, Polda Bali Siagakan 100 Personel
Demikian juga di tahun 2025 bahwa pembangunan Jawa Bali Connection (JBC) sudah bisa masuk sehingga EBT – EBT yang merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang rentan terhadap cuaca itu bisa masuk dengan kekuatan sistem yang sudah ditambah pada tahun 2025.
Seperti diketahui bahwa PLTS pada tahun 2022 sudah masuk sebesar 50 MW, terdiri 25 MW ada di Bali Timur dan 25 MW ada di Bali Barat.
"JBC ini akan masuk dengan kapasitas 1.000 MW sampai dengan 2.000 MW.Artinya saat tahun 2025 kita memiliki cadangan listrik yang sangat besar 600 MW. Begitu juga dengan 2026-2029 cadangan kita rata-rata 800-700 MW " jelas Putrawan.
Dengan demikian, kata Putrawan, kondisi sistem pembangkit listrik di Bali hingga 2029 sangat aman dengan masuknya kekuatan dari PLTS secara bertahap pada 2022.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
Kena OTT KPK, PAN Langsung Pecat Lalu Ahmad Zaini Sebagai Kader
-
Dua Tersangka Kasus Santri Terbakar Diperiksa Polisi
-
Penembak Sekuriti dan Warga Negara Maroko di Bali Punya Izin Senpi
-
Operasi Senyap KPK Berlanjut, Giliran Bupati Lombok Barat Ditangkap!
-
Balon Gas Meledak Saat Perayaan Hari Koperasi di Bali, 11 Orang Terluka