Tantangan yang dihadapi dalam pembuatan ogoh-ogph ini adalah pemasangan kulit bawang merah, yang harus dilakukan satu per satu.
"Proses ini cukup membosankan dan memakan waktu lama," tambah Sandiyoga.
Tak hanya itu, bagian ogoh-ogoh yang menggunakan modul mesin terutama di area bunga yang ditempati oleh figur Brahmana, juga sempat mengalami kesulitan.
Hal ini karena kurangnya pengalaman dalam bidang mesin, sehingga menjadi tantangan saat penyetelan.
Baca Juga:WNA yang Belum Bayar Pungutan Wisman di Bali Tidak Dilayani di Tempat Wisata
Dengan persiapan yang matang dan semangat yang tinggi, ST Purwa Jati Kumara Gana optimis dapat menampilkan ogoh-ogoh terbaik.
"Kami berharap karya ini bisa menginspirasi komunitas lain untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan tetap melestarikan tradisi dengan cara yang inovatif," pungkasnya.
Tentang Ogoh-ogoh
Sebagaimana diketahui, ogoh-ogoh adalah patung raksasa yang dibuat dari bahan ringan seperti bambu, kertas, dan styrofoam, yang menjadi bagian penting dari tradisi Bali dalam menyambut Hari Raya Nyepi, melambangkan Bhuta Kala (kekuatan alam semesta dan waktu) yang diarak dan kemudian dibakar.
Tradisi ogoh-ogoh berkembang pesat di Bali sejak tahun 1980-an, terutama setelah Nyepi ditetapkan sebagai hari libur nasional.
Baca Juga:Nyepi Dan Idul Fitri Bersamaan, Polresta Mataram Tekankan Untuk Saling Toleransi
Ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, kekuatan alam semesta (Bhu) dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan dalam ajaran Hindu Dharma.