Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram

Jelang Nyepi & Idul Fitri 2025, harga cabai rawit merah di Bali melonjak hingga Rp130 ribu.

Eviera Paramita Sandi
Senin, 24 Maret 2025 | 09:40 WIB
Pedasnya Harga Jelang Nyepi & Lebaran: Cabai Rawit di Bali Tembus Rp130 Ribu Per Kilogram
Ilustrasi cabai [Suara.com / Eviera Paramita Sandi]

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali mengadakan pasar murah salah satunya di Kantor Desa Patas, Gerokgak, Kabupaten Buleleng pada Senin ini.

Sementara itu, ketua Tim Pengendalian Harga Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Bali Sri Udayani menjelaskan menjelang Hari Raya Galungan yang jatuh pada April 2025, pihaknya juga mengadakan pasar murah rencananya di Kabupaten Bangli dan Karangasem.

Sebelumnya, Pemerintah Kota Denpasar melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Denpasar juga menebar pasar murah di sejumlah titik pada 10-20 Maret 2025 menjelang Nyepi dan Lebaran.

Komoditas Yang Selalu Naik

Baca Juga:Jadwal Imsakiyah 22 Ramadan 1446 H Untuk Kota Denpasar, 22 Maret 2025

Menjelang hari raya keagamaan di Bali seperti halnya Nyepi ada 3 komoditas yang selalu meningkat harganya.

Hal ini pun tidak jarang menyebabkan inflasi di daerah tersebut.

Di tahun sebelumnya saat periode Nyepi tiga komoditas penyebab inflasi adalah cabai rawit, bawang merah dan daging babi.

Selain tiga komoditas tersebut, permintaan canang sari pada setiap hari raya di Bali juga selalu naik, termasuk menjelang Nyepi.

"Canang sari termasuk core inflation. Bahkan pada Nyepi tahun-tahun sebelumnya harga telur ayam juga selalu naik," ujarnya Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda pada Nyepi tahun 2021.

Baca Juga:7 Penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali Dibatalkan Karena Erupsi Lewotobi

Saat itu juga harga cabai rawit merah meningkat di atas 100 ribu per kilogramnya.

Agar potensi inflasi yang disebabkan cabai rawit merah tidak semakin tinggi, pihaknya menyarankan masyarakat mengurangi dari sisi "demand" atau permintaan dengan mengganti jenis cabai yang lain seperti cabai rawit hijau yang harganya tidak begitu tinggi.

Saat demand turun, lanjut dia, harganya otomatis akan turun. Selain itu, tentu dengan menambah pasokan. masyarakat dapat melakukannya dengan mulai turut menanam cabai rawit merah dengan memanfaatkan halaman rumah maupun lahan kosong.

"Logikanya, dengan menambah pasokan di setiap halaman rumah, masyarakat tidak perlu lagi membeli ke pasar, sehingga harganya pun berangsur-angsur akan turun. Pemerintah Kabupaten Karangasem misalnya, bahkan sudah menginstruksikan masyarakatnya untuk menanam komoditas yang berpotensi memicu inflasi," ucap Rizky

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini