Kerap Jadi Daya Tarik Tersendiri, Ini Filosofi Pelebon

Masyarakat umum lebih memahami istilah Ngaben, yang berarti upacara prosesi pembakaran mayat atau kremasi.

Eviera Paramita Sandi
Selasa, 16 April 2024 | 14:01 WIB
Kerap Jadi Daya Tarik Tersendiri, Ini Filosofi Pelebon
ILUSTRASI - Bade untuk Palebon Ida Cokorda Pamecutan XI di Denpasar, Bali, Jumat (21/1/2022). [Foto : Instagram @dishubdenpasar]

Upacara puncak pelebon dimulai saat Bade dan Lembu beserta perlengkapan lainnya diusung beramai-ramai menuju tempat kremasi.

Karena perlengkapan upacara puncak pelebon ini sangat besar, biasanya pihak terkait melakukan pemadaman listrik di sepanjang perjalanan upacara.

Pengusungan bade dan lembu dilakukan secara estafet oleh beberapa kelompok yang terdiri dari 300 orang.

Disetiap pertigaan atau perempatan jalan, bade akan diputar tiga kali. Pemutaran ini bermaksud agar roh mendiang tidak Kembali ke tempat semula.

Baca Juga:3 Hari Liburan di Bali, Wisatawan Asal Jakarta Habiskan Rp 6 Juta Untuk Beli Oleh-oleh

Setelah sampai di setra, jenazah dari bade dipindahkan ke dalam lembu. Kemudian diadakan tarian sakral untuk mengusir hal-hal yang tidak diinginkan sebelum jenazah dibakar.

Jenazah kemudian dibakar beserta lembu dan bade hingga menjadi abu. Setelah proses kremasi selesai, ada Upacara Nuduk Galih, untuk mengumpulkan sisa tulang.

Sisa-sisa tulang tersebut diupacarai dan dilarung ke laut. Ritual ini diakhiri dengan pelarungan ke laut, utamanya ke Pantai Matahari Terbit di Sanur.

Kontributor : Kanita

Baca Juga:Penumpang di Terminal Mengwi Masih Didominasi Keberangkatan

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak