Kisah Pemburu Penyu yang Kini Sadar Dan Menjadi Pelestari di Pantai Perancak

Ia awalnya tidak mengerti jika yang dilakukan bapaknya salah.

Eviera Paramita Sandi
Sabtu, 28 Oktober 2023 | 11:03 WIB
Kisah Pemburu Penyu yang Kini Sadar Dan Menjadi Pelestari di Pantai Perancak
Kurma Asih Sea Turtle Conservation and Education Center, Jembrana, Bali. [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]

“Pihak WWF Indonesia kemudian memberikan edukasi dan penyuluhan tentang pentingnya konservasi dan pelestarian lingkungan termasuk penyu hijau di Desa Perancak. Akhirnya pada Juni 1997, kami mendirikan Yayasan Kurma Asih yang bergerak dalam konservasi alam diantaranya pelestarian penyu hijau. Anggotanya para nelayan mantan pemburu penyu. Dan kami bersyukur sekarang jumlah penyu hijau sudah berangsur pulih,” kata Anom yang mulai aktif di tahun 1998.

Karena dedikasinya yang luar biasa terhadap lingkungan (eksplorasi laut dan pesisir), tahun 2000 lalu, Anom Astika dengan Yayasan Kurma Asihnya menerima penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Tingkat Nasional dari Presiden Gus Dur. Kemudian tahun 2017 menerima Penghargaan Kalpataru dari Presiden Joko Widodo.

“Bagi saya, penghargaan itu melecut semangat saya dan teman-teman untuk terus berkiprah sebagai garda terdepan dalam upaya penyelamatan lingkungan khususnya pelestarian penyu hijau,” tuturnya.

Ia akhirnya bergabung dengan Yayasan Kurma Asih mendirikan warung ikan bakar ‘Kurma Asih’ untuk melayani para tamu dan berbagai pihak yang berkunjung ke konservasi penyu tersebut.

Baca Juga:Makna Ngaben Bikul di Bali, Para Warga Akan Terlebih Dulu Menangkap Tikus Massal

Ia berharap nantinya Kurma Asih menjadi pusat konservasi dan edukasi khususnya penyu hijau. Nantinya, siswa TK hingga PT (Perguruan Tinggi) bisa belajar tentang konservasi alam/lingkungan di Kurma Asih.

“Misi kami belum selesai. Meski Kurma Asih sudah diakui dunia sebagai salah satu yayasan konservasi alam dan lingkungan, bukan berarti tidak ada kendala dan kekurangannya. Biaya operasional cukup besar. Bagaimana kami harus secara rutin berpatroli membersihkan pantai dari sampah plastik, mencari ‘bapak angkat’ untuk membantu ‘mengadopsi’ sarang-sarang penyu agar telurnya bisa menetas dengan baik. Patroli di Pantai Perancak sepanjang 30 Km membutuhkan solar yang tak sedikit, apalagi jika ada kerusakan mesin pada kapal. Semua membutuhkan biaya tak sedikit,” jelas Anom.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak