“Fenomena ini umumnya wajar terjadi pada masa transisi atau masa peralihan musim atau ketika musim hujan”, terangnya.
Ia melanjutkan, penyebab utama dari hujan es ini adalah awan cumulounimbus atau dikenal juga dengan awan Cb.
Awan Cb yang dihasilkan dari pemanasan yang kuat di permukaan dan labilnya udara di wilayah tersebut mampu menghasilkan tinggi puncak yang signifikan yakni lebih dari 5 kilometer dengan suhu puncak yang sangat dingin dapat berpotensi menghasilkan hujan es.
Hujan es dapat dihasilkan awan Cb ketika awan tersebut mengalami proses updraft yang kuat dan mendorong partikel es tersebut jatuh ke permukaan dan umumnya diikuti oleh hujan lebat petir serta angin kencang sebagai hembusan kuat dari awan Cb tersebut.
“Saat fenomena itu masyarakat diharapkan segera berlindung di tempat yang aman dan sebaiknya tidak beraktivitas di luar ruangan, disebabkan potensi cuaca ekstrem juga dapat bersamaan terjadi yakni hujan lebat disertai petir serta angin kencang,” pesannya.
Alfiansyah juga mengingatkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih akan berpeluang terus terjadi.
Untuk itu masyarakat diimbau lebih mewaspadai dampak yang di timbulkan seperti banjir, genangan air, longsor, pohon tumbang, puting beliung, angin kencang hingga hujan es.
“Masyarakat jangan lupa selalu update dan selalu pantau informasi cuaca BMKG NTB yang dapat di akses melalui kanal resmi BMKG NTB,” pungkasnya.
Kontributor: Toni Hermawan