Semua belati atau keris raja dan bangsawan terlihat menawan dan bertahtakan perhiasan. Sarungnya juga dihiasi dengan bermacam macam batu hias.
Tulisan Aernoudt Lintgenzoon ini lalu disusun dalam buku "Bali Tempo Doeloe" oleh Adrian Vickers ini menyebutkan, Raja Bali memiliki empat buah rumah pengintai di depan istana, lengkap dengan berbagai senjata termasuk meriam besi dan baja, bubuk mesiu dan peluru.
Beberapa tombak milik prajurit raja, panjangnya 20 kaki dan berlapis emas, diukir dan dilukis indah. Juga ada senjata sumpit panah beracun, serta tameng dari kulit tebal yang dipadatkan
Selain raja yang hidup makmur dan kaya raya, sosok "kijlloer" atau Menteri Utama yang menjadi Kepala Pemerintahan juga digambarkan sebagai sosok kaya raya dan punya istri banyak.
Menteri Utama Raja Bali waktu itu disebut mempunya 10 istri belum termasuk dayang-dayang. Ia bisa tidur dengan istri atau dayang-dayangnya kapan saja ia mau. Menteri utama juga punya anak laki berumur 7 tahun.
Jika ia meninggal sebelum anaknya umur 12 tahun, maka semua harta diserahkan ke raja. Anaknya hidup dari kebaikan raja dan semua milik Menteri Utama akan menjadi milik Raja.
"Kijlloer" merupakan orang terkaya kedua setelah raja. Salah satu harta yang sempat dilihat penulis adalah delapan keris dengan hiasan emas masing-masing seberat 1 kilogram, tiga cangkir emas, serta wadah pinang berlapis emas.