"Sebelum Hotel Bali Beach dibuka 1 November 1966, sejak tahun 1925 sudah ada Natour Bali Hotel di Denpasar, Natour Sanur Beach, dan Natour Kuta Beach di Kuta. Apakah Natour Kuta Beach ini bekas milik K'tut Tantri, saya juga tidak tahu pasti," sambungnya.
Rela Disiksa Demi Kemerdekaan Bangsa Lain
Kembali lagi soal kisah K'tut Tantri, saat mengungsi di Jawa, K'tut tinggal di Hotel Oranje Surabaya, ia bersama Agung Nura berkeliling di Jawa ikut serta dalam gerakan bawah tanah untuk kemerdekaan Indonesia. Hidupnya tak pernah lepas dalam bayang-bayang ancaman maut.
Namun K'tut dicurigai oleh Jepang, dia ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Kediri atas tuduhan sebagai mata-mata Amerika. Ia mengisahkan bahwa ia mendapatkan siksaan yang berat, dipukuli, ditelanjangi, dan dibiarkan kelaparan.
Saat momentum Jepang kalah terhadap sekutu, K'tut dipindah ke rumah sakit, di sana dia dirawat seorang dokter teman Nura. K'tut sempat tidak sadarkan diri dan melewatkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah pulih K'tut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui siaran di radio di Surabaya. Ia pun mendapatkan sebutan Surabaya Sue karena ketenarannya sebagai pewarta yang mengguncang dunia Internasional.
Bersama Bung Tomo ia juga membantu menyiarkan pidato-pidatonya yang membakar semangat rakyat untuk terus berjuang karena saat itu Kota Surabaya hancur dihantam bom oleh pasukan Inggris. Saat pasukan Inggris menduduki Surabaya, K'tut berjuang menyuarakan kemerdekaan Indonesia kepada dunia internasional.
Di akhir hayatnya, ia meninggal dan peti jenazahnya diselimuti bendera merah putih dan dihiasi ornament Bali sebagaimana permintaannya semasa hidup.
Jenazahnya pun diaben di Australia dan abunya ditebar ke Pantai Kuta kehendakknya. Sedangkan sisa harta kekayaannya diberikan kepada anak-anak kurang mampu di Bali.
K’tut Tantri pun membuktikan kecintaan pada Indonesia dan bangsanya. Kalah atau menang tetap Indonesia. Seperti pada pernyataannya di Revolt In Paradise :