Mencari Jejak Sejarah Ktut Tantri dari Kuta Hingga Swara Segara

Dialah satu dari sekian sosok minoritas yang mewartakan kepada dunia internasional bagaimana perjuangan rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

Eviera Paramita Sandi
Rabu, 17 Agustus 2022 | 11:50 WIB
Mencari Jejak Sejarah Ktut Tantri dari Kuta Hingga Swara Segara
Pantai Kuta, Badung, Bali. Selasa (16/8/20220) [Suara.com/Yosef Rian]

Di sana ia bertemu dengan Anak Raja, bernama Anak Agung Nura pangeran Bali yang pernah mengecap pendidikan di Leiden dan Universitas Heidelberg di Jerman. Dari situlah perempuan Amerika Serikat dan berdarah Skotlandia itu diangkat menjadi anak ke-empat raja Klungkung itu dan disematkan nama K'tut.

Kisah perjuangannya ini juga ditulis dalam sebuah buku berjudul Revolusi di Nusa Damai.

Muriel Stuart Walker alias K'tut Tantri saat bertemu dengan Presiden RI Soekarno. [Wikipedia.org]
Muriel Stuart Walker alias K'tut Tantri saat bertemu dengan Presiden RI Soekarno. [Wikipedia.org]

Hotel Impian Dihancurkan Jepang

Ketut Tantri mewujudkan cita-citanya membangun hotel di kawasan Pantai Kuta, Bali, ia begitu terpesona dengan keindahan Bali. Hotel itu dibangun berkat bantuan kawan-kawan dan penduduk desa.

Hotel tersebut dinamai Swara Segara yang pada akhirnya hancur porak poranda.

Hotel Swara Segara konon mengadopsi budaya Barat dan Timur, hotel itu cepat tenar dan banyak dikunjungi turis. K’tut menuliskan, orang yang hanya punya sedikit uangpun bisa menginap di hotelnya.

Kemudian tentara angkatan udara Jepang menduduki Bali K’tut Tantri dan Agung Nura saat itu harus mengungsi ke Jawa. Saat itulah Hotel Swara Segara yang dibangun K’tut Tantri dihancurkan Jepang.

Tak ada yang tersisa hingga titik lokasinya pun masih menjadi tanda tanya besar ketika mencoba menggali jejaknya.

Tentara Jepang disebutkan memiliki kebijakan untuk menghancurkan semua properti milik orang kulit putih. Hotel dan bungalow K’tut Tantri pun tak bersisa. Harta benda dan lukisan-lukisan K’tut juga telah dijarah.

“Tidak ada sepotong bambu pun masih utuh di situ. Tak sampai segenggam batu koral yang masih tersisa dari bangunan pura,” tulis K’tut.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak