facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Perang Ketipat, Cara Unik Warga Desa di Karangasem Bersyukur Atas Hasil Tani

Eviera Paramita Sandi Jum'at, 20 Mei 2022 | 09:30 WIB

Perang Ketipat, Cara Unik Warga Desa di Karangasem Bersyukur Atas Hasil Tani
Warga Desa adat Apit Yeh, Manggis, Karangasem, Bali saat melaksanakan perang Ketipat. [Foto : Istimewa]

Bukan perang berdarah-darah namun mereka berperang menggunakan ketupat.

SuaraBali.id - Cara unik warga Desa adat Apit Yeh, Manggis, Karangasem, Bali dalam mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang mereka terima adalah dengan perang Ketipat.

Bukan perang berdarah-darah namun mereka “berperang” menggunakan ketupat.

Bendesa Adat Apit Yeh, I Nengah Kuta, seperti sebutannya "Perang ketipat" warga Desa Adat Apit Yeh yang sebelumnya sudah dibagi menjadi dua kelompok berperang.

Mereka melakukannya dengan cara saling lempar menggunakan ketipat (ketupat).

Baca Juga: Balinale Akan Digelar di Beachwalk Kuta Hadirkan 63 Film dari 26 Negara

Dimana ketupat yang menjadi senjata ini ditempatkan tepat di areal pertigaan yang ada di wilayah Desa Adat setempat.

Perang Ketipat ini merupakan salah satu tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun oleh para tetua di Desa Adat Apit Yeh sebagai ungkapan rasa syukur atas anugrah Ida Bhatari Sri sebagai manifestasi Tuhan.

Hal ini karena telah memberikan hasil panen yang melimpah mengingat sebagian besar warga merupakan petani.

"Tradisi ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali tepatnya 15 hari setelah prosesi "Mebiukukung" di sawah, dan kebetulan pelaksanaan perang tipat nya jatuh tepat pada hari ini," tutur Bendesa Nengah Kuta Kamis (19/5/2022) sebagaimana diwartakan beritabali.com – jaringan suara.com.

Sebelum dilaksanakannya tradisi tersebut, masing - masing warga menghaturkan sebanyak 2 kelan atau 12 biji ketipat (ketupat) ke Pura Puseh dan kayangan tiga yang ada di Desa Adat setempat.

Baca Juga: Sempat Teriak Selama 15 Menit, Warga Jembrana yang Jatuh ke Sumur Ini Tak Berhasil Diselamatkan

Nah setelah dihaturkan, barulah ketupat tersebut digunakan sebagai senjata dalam tradisi perang ketipat tersebut.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait