facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Penjual Gorengan Asal Loloan Ini Ceritakan Kisahnya Hingga Bisa Kuliahkan Anak-anaknya

Eviera Paramita Sandi Kamis, 12 Mei 2022 | 08:06 WIB

Penjual Gorengan Asal Loloan Ini Ceritakan Kisahnya Hingga Bisa Kuliahkan Anak-anaknya
Penjual gorengan dan masakan khas kampung Loloan, Fatahillah (63) warga Lingkungan Terusan Kelurahan Loloan Barat, Jembrana, Bali. [Foto : Istimewa/beritabali.com]

Sedangkan 2 putranya, satunya kuliah kedokteran tinggal menunggu diwisuda. Terakhir, putranya baru kelas 8 di SMPN 2.

SuaraBali.id - Seorang penjual gorengan dan masakan khas Kampung Loloan, Jembrana, Bali bernama Fatahillah (63) menceritakan kisah usahanya yang digeluti sejak 12 tahun lalu. Warga Lingkungan Terusan Kelurahan Loloan Barat ini pun sukses menyekolahkan anaknya menjadi calon dokter.

Ia menceritakan bahwa pekerjaannya ini dilakukan demi keluarga dan anak-anak bisa sekolah. Anak putrinya kuliah jurusan kebidanan saat ini menjalani semester akhir.

Sedangkan 2 putranya, satunya kuliah kedokteran tinggal menunggu diwisuda. Terakhir, putranya baru kelas 8 di SMPN 2.

Meski hanya menjual gorengan dan panganan kampung, ia mengutamakan anak-anak agar lebih tekun belajar dan sekolah agar jangan seperti kedua orang tuanya.

Baca Juga: Viral Harga Seafood Ngepruk di Pasar Kedonganan Bali, Kepiting Rp 550 Ribu Per Kilogram

Anak pertama bernama Anggi Larasati kuliah di IIK (Institut Ilmu Kesehatan) STRADA Indonesia Kediri Jawa Timur. Saat ini Anggi sudah masuk semester akhir ditempuh dengan sistem pelajaran online dan bisa membantu orang tua berjualan.

"Anak kedua laki-laki, Muhammad Alfarizi kuliah jurusan kedokteran umum di UIN (Universitas Islam Negeri) Malang tinggal menunggu hasil wisuda. Bahkan tak sedikit butuh biaya pada saat kuliah," katanya.

"Awalnya biaya yang ditempuh Rp22 juta per semester. Sedangkan Anggi perlu biaya Rp8 juta per semester. Saat itu biaya masuk Anggi Rp35 juta dan Alfarizi tanpa biaya karena menempuh kuliah jalur undangan dengan dengan segudang prestasi yang diraih," ujarnya.

Ia bersyukur anaknya Muhammad Alfarizi saat itu diminta sumbangan biaya gedung hanya bisa membayar Rp15 juta. Itupun, katanya, termasuk infaq sumbangan karena tak mampu melebihi dari biaya dari yang lain.

"Istri saya Mahmuda (48) justru sangat tak inginkan anak-anak sengsara seperti dirinya. Tinggal di pondok dengan carut marut. Tak ingin anak-anak sengsara bahkan harus lebih pintar dan tempuh pendidikan lebih tinggi dan punya ilmu yang lebih maju," katanya.

Baca Juga: Minyak Goreng Curah di Tabanan Capai Rp 20 Ribu Per Liter, Kadisperindag Tak Bisa Bicara Banyak

Fatahillah mengungkapkan hasil jualan ia bagi 3. Tabungannya terdiri untuk biaya ibadah haji, biaya untuk sekolah anak-anak dan yang penting biaya untuk kesehatan.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait