Sejarah Nasi Balap Puyung Inaq Esun, Kuliner Khas Lombok yang Hanya Bisa Dinikmati di Daerah Asalnya

Tidak seperti ayam bakar taliwang yang nama dan keberadaannya sudah mentereng di mana-mana. Nasi Balap Puyung hanya bisa ditemukan di Lombok.

Eviera Paramita Sandi
Senin, 28 Maret 2022 | 15:08 WIB
Sejarah Nasi Balap Puyung Inaq Esun, Kuliner Khas Lombok yang Hanya Bisa Dinikmati di Daerah Asalnya
Nasi Balap Puyung Inaq Esun. [Foto : Istimewa]

SuaraBali.id - Salah satu makanan khas Lombok yang selalu menjadi incaran wisatawan adalah nasi balap puyung. Kuliner ini kerap kali dijual di warung-warung di Lombok.

Banyak yang sudah mengenal nasi balap puyung, terutama bagi para petualang sekaligus pecinta kuliner. Bahkan, dengan sengaja bertandang ke pulau besar itu semata-mata untuk menikmatinya.

Tidak seperti ayam bakar taliwang yang nama dan keberadaannya sudah mentereng di mana-mana. Nasi Balap Puyung hanya bisa ditemukan di Lombok.

Jadi, bisa dikatakan menikmati nasi balap puyung adalah salah satu kesempatan langka yang tak mungkin dilewatkan bila datang ke Lombok.

Penamaan dari nasi balap puyung, yang diserap dari lokasi penciptanya, yaitu Kampung Puyung, Lombok Tengang, Nusa Tenggara Barat. Saat itu, pada 1970-an, pencipta nasi balap puyung, Inaq Esun melihat cucunya yang sedang mengikuti perlombaan balap liar lokal.

Setiap cucunya memenangkan perlombaan itu, ia mentraktir teman-temannya di warung milik Inaq Esun. Inilah sebabnya menu nasi yang dipesan sang cucu diberi nama nasi balap puyung.

Satu porsi nasi putih dengan lauk pauk berupa suwiran daging ayam bumbu, kacang, kedelai goreng, cabai kering khas Lombok, oseng buncis, telur, dan kering kentang.

Mulanya, nasi balap puyung dijajakan dengan menerapkan sistem barter. Lantaran pada masa itu, kuliner khas Lombok satu ini belum mendapatkan prospek pasar yang baik.

Membuat Inaq Esun terpaksa menjualnya dari suatu pasar ke pasar lain.Walhasil, pendapatan yang diperoleh dari nasi ayam balap puyung tidaklah seberapa.

Lebih banyak kecil bahkan merugi, membuat keluarga Inaq Esun sempat menentang usahanya. Mengingat hasil kerja keras Inaq Esun tidak sebanding dengan tenaga, dan waktu yang dikerahkan.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak