Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI Gunakan Bade Tumpang Solas Hingga Ogoh-ogoh Raksasa

Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI juga akan menggunakan bade tumpang solas atau sebelas, serta dikawal oleh arak-arakan ogoh-ogoh berbentuk raksasa.

Eviera Paramita Sandi
Selasa, 28 Desember 2021 | 07:45 WIB
Pelebon Ida Cokorda Pemecutan XI Gunakan Bade Tumpang Solas Hingga Ogoh-ogoh Raksasa
Puri Pemecutan. [Foto : Istimewa/beritabali.com]

Sekilas tentang upacara tersebut, Bade yang digunakan sebagai tempat jenazah menuju Setra atau kuburan adat yaitu tumpang atau beratap sebelas. Juga akan ada arak-arakan ogoh-ogoh.

"Semua ada maknanya. Mungkin lalu lintas akan sedikit terhambat, mohon masyarakat memaklumi," ujar Rai yang juga Bendesa Adat Denpasar.

Semua atribut, termasuk Bade akan dibuat di halaman Puri. Kendati akan berlangsung lama dan melibatkan ribuan Krama dari ratusan desa adat, dia menyebut pihak keluarga tetap menghormati aturan pemerintah terkait penerapan protokol kesehatan.

Pihak keluarga telah berkoordinasi dengan pihak terkait pengawasan prokes agar setiap tahap berjalan lancar. Rai menyebut, sejumlah kelompok yang ingin terlibat dalam prosesi itu diimbau agar menahan diri.

"Terutamanya warga Islam Kepaon kita minta janganlah lebih dari 25 orang, atau dengan bergiliran. Memang semangat warga Islam Kepaon luar biasa, setiap ada upacara besar di puri, selalu hadir," tutur Rai.

Terkait mencegah kerumunan juga, pihak keluarga tidak melibatkan Krama adat untuk ngiring, atau ikut ngaben.

"Pada tahun 1962 itu melibatkan 2.500 sane nyarengin. Namun karena pandemi, bukan kami menolak, sampai saat ini prosesi masih ngeraga," ungkapnya.

Sementara sang menantu, Ida Bagus Wesnawa menyebut upacara ini sekaligus menjadi momentum edukasi kepada generasi muda internal Puri maupun masyarakat umum, bahwa ada adat istiadat yang patut kita jaga kelestariannya.

Ia juga berharap ada sinergi antara pemerintah bersama Krama adat untuk menjaga kearifan lokal di tengah aturan-aturan pembatasan kegiatan sosial akibat pandemi. Sehingga ada jalan tengah agar adat di Bali tetap berjalan, juga selaras dengan kebijakan pemerintah.

Hai sudarma mengatakan acara ini termasuk telah mengalami penyederhanaan dibandingkan gelaran masa lampau, namun tidak menghilangkan pakem dari esensi upacara itu sendiri.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak