"Kami dibilang beda syahadat lah, beda nabi, beda kitab," keluhnya.
"Orang Ahmadiyah ndak bisa bikin Al-Quran, orang Ahmadiyah ndak bisa bikin syahadat, yang bisa bikin syahadat hanya Allah saja," lanjutnya.
Menurutnya, isu-isu yang tidak benar itulah yang memantik respons buruk dari masyarakat.
"Makanya kami minta juga Pak Gubernur untuk sering-sering hadir di sini, berdialog, dengarkan keluhan kami," sebutnya.
Baca Juga:Panorama Alam Pantai Seger di Dekat Tikungan 10 Sirkuit Mandalika
Jemaah Ahmadiyah, kata Saharudin, tak pernah tidak taat terhadap pemerintah. Mereka, lanjut Sahar, selalu mengutamakan perintah dari atasan, termasuk instruksi pemerintah.
"Coba lihat, ndak ada sejarahnya jemaah Ahmadiyah pernah demo, tidak pernah, mau anarkis tidak pernah, karena itu tidak sesuai dengan silsilah ajaran para nabi. Kita cuman minta solusi dari gubernur," tandasnya.
"Yang kita ingin tanggung jawab dari pemda terhadap nasib kami, kan kami juga punya hak yang sama dengan masyarakat yang lain," katanya.
Sementara itu, Gubernur NTB, Zulkieflimansyah memang sempat beberapa kali hadir ke tempat tersebut untuk berdialog dengan warga jemaah Ahmadiyah. Namun, hingga kini belum ada solusi konkrit yang ditawarkan.
"Saya beberapa kali hadir di situ," kata Gubernur NTB saat dikonfirmasi Suara.com.
Baca Juga:Belum Ditemukan Kasus Covid-19 Varian Omicron di Mataram
Menurutnya, pihaknya telah menawarkan opsi untuk pindah. Namun, hal tersebut tak ujung menemukan titik temu.