alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Navicula Rilis Lagu Bali Mulih, Kisahkan Tentang Pekerja Pariwisata Yang Kini Terpuruk

Eviera Paramita Sandi Rabu, 13 Oktober 2021 | 13:31 WIB

Navicula Rilis Lagu Bali Mulih, Kisahkan Tentang Pekerja Pariwisata Yang Kini Terpuruk
Behind the scene pembuatan video Navicula yang berjudul Mulih

Navicula menyelipkan pesan bahwa pandemi mengajarkan kita untuk memikirkan ulang skala prioritas agar tidak semata bergantung di pariwisata.

SuaraBali.id - Setelah 25 tahun berkarya di Industri musik Indonesia, Navicula akhirnya merilis lagu berbahasa Bali berjudul Mulih. Lagu Mulih terinspirasi dari situasi pandemi saat ini.

Videonya bercerita tentang orang yang dulu bekerja di pariwisata lalu kehilangan pekerjaan dan terpaksa pulang kampung ke daerah asal karena tidak mampu memenuhi kehidupan di tanah rantau. 

Menurut penelitian lembaga Kopernik, tempat Robi Navicula bekerja, lembaga ini mendapati data, ada 81% masyarakat Bali yang terdampak secara ekonomi dan 46%nya kehilangan pekerjaan.

“Industri di Bali secara keseluruhan sangat bergantung dengan industri pariwisata. Ibarat menaruh telur di dalam satu keranjang. Saat keranjang jatuh, maka seluruh telur akan ikut jatuh dan pecah,” kata Gede Robi, vokalis Navicula, Selasa (13/10/2021). Ia mengibaratkan pandemi dan ekonomi di Bali.

Saat ini, Industri pariswisata adalah industri paling terpuruk di Bali akibat Pandemi. Banyak tenaga kerja yang menganggur dan pulang ke kampung.

“Kampung adalah harta yang terlupakan. Di kampung orang bisa dapatkan kedaulatan pangan, syukur-syukur mereka punya lahan sehingga mereka punya opsi untuk kebutuhan dasar. Ada udara yang segar, masih ada dan beberapa harta berupa kebijakan lokal yang dulu ditinggakan, kini mulai diingat kembali,” ujarnya.

Navicula menyelipkan pesan bahwa pandemi mengajarkan kita untuk memikirkan ulang skala prioritas agar tidak semata bergantung di pariwisata. Namun perlu kembali memikirkan sektor lain seperti kedaulatan pangan atau pertanian.

Banyak orang kini memilih pulang kampung hingga terjadi ledakan tenaga kerja di desa.  Inilah yang diharapkan bisa menjadi momentum kebangkitan pertanian dan desa. Mereka yang pulang kampung, setelah dilatih untuk mengembangkan pertanian bisa saja malah berpikir untuk tinggal dan mengembangkan desanya. Harapannya, kalau dulu ada masalah krisis petani, kini sudah tidak ada lagi.

“Jadi tidak ada lagi orang yang merasa gagal ketika pulang kampung, tapi ketika orang pulang kampung, ini akan menjadi pride. Karena di desa, pertanian akan menjadi kunci utama pelestarian alam dan budaya,” tambah Robi yang juga adalah seorang petani kopi di kampungnya di Tabanan.

Menurut Navicula, melestarikan budaya pertanian sama dengan melestarikan Budaya Bali.

Komentar

Berita Terkait