Tapi barangkali tidak semudah itu. Menghindari kontak dengan kelelawar barangkali gampang dilakukan di masa lalu dalam sejarah manusia, namun seiring populasi manusia bertambah, kita mengubah planet ini dan menghancurkan habitat alam untuk memenuhi kebutuhan akan sumber daya. Perbuatan ini mempercepat penyebaran penyakit.
"Penyebaran patogen [zoonotik] ini dan risiko transmisi bertambah cepat dengan... perubahan penggunaan lahan seperti penggundulan hutan, urbanisasi, dan intensifikasi pertanian," tulis Rebekah J White dan Orly Razgour dalam telaah tentang penyakit zoonotik emerging yang diterbitkan Universitas Exeter pada 2020.
Sebanyak 60% populasi dunia tinggal di Asia dan wilayah Pasifik, sementara urbanisasi terus berlangsung dengan cepat. Menurut Bank Dunia, hampir 200 juta orang pindah ke wilayah perkotaan di Asia Timur antara tahun 2000 dan 2010.
Kerusakan habitat kelelawar telah menyebabkan infeksi Nipah di masa lalu. Pada tahun 1998, wabah virus Nipah di Malaysia menewaskan lebih dari 100 orang. Para peneliti menyimpulkan bahwa kebakaran hutan dan kekeringan telah mengusir kelelawar dari habitat aslinya dan memaksa mereka untuk mencari buah-buahan di pepohonan yang tumbuh di peternakan babi.
Baca Juga:Meningkat, Positif Covid-19 di Sumut Tembus 20.403 Kasus
Di bawah tekanan, kelelawar dapat melepaskan lebih banyak virus. Akibat dipaksa untuk pindah, plus kontak dekat dengan spesies yang biasanya tidak berinteraksi dengan mereka, virus dapat melompat dari kelelawar ke babi, dan seterusnya ke peternak.
Sementara Asia adalah rumah bagi hampir 15% hutan tropis dunia, kawasan ini juga dilanda masalah deforestasi. Asia menjadi salah satu benua di dunia yang paling banyak kehilangan keanekaragaman hayati. Sebagian besarnya akibat perusakan hutan untuk dijadikan perkebunan seperti kelapa sawit, tapi juga untuk area permukiman dan peternakan.
Kelelawar buah biasanya tinggal di kawasan hutan lebat dengan banyak pohon buah-buahan sebagai sumber makanan mereka. Ketika habitat mereka dihancurkan atau dirusak, mereka mencari tempat baru untuk bertengger - seperti di atap rumah, atau menara Angkor Wat.
"Kerusakan habitat kelelawar serta gangguan manusia melalui perburuan membuat rubah terbang harus mencari tempat alternatif untuk bertengger," kata Duong. Kemungkinan besar kelelawar yang dipantau oleh tim Duong terbang hingga 100 kilometer setiap malam untuk mencari buah-buahan karena habitat alami mereka sudah tidak ada lagi.
Namun kelelawar, kita ketahui sekarang, membawa berbagai penyakit berbahaya - tak cuma Nipah dan Covid-19, tetapi juga Ebola dan Sars.
Baca Juga:Percepat Vaksinasi, Andi Arief Usul TPS Jadi Lokasi Penyuntikan Vaksin
Kalau begitu, perlukah kita membasmi kelelawar? Tidak, kecuali kita ingin memperburuk keadaan, kata Tracey Goldstein, direktur Laboratorium One Health Institute dan laboratorium Proyek Prediktik. "Kelelawar memainkan peran ekologis yang sangat penting," ujarnya.