alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pandemi COVID-19 Belum Beres, Virus Nipah Ancam Asia, Termasuk Indonesia?

Pebriansyah Ariefana Selasa, 26 Januari 2021 | 17:21 WIB

Pandemi COVID-19 Belum Beres, Virus Nipah Ancam Asia, Termasuk Indonesia?
Petugas kesehatan memeriksa inkubator di ruang bersalin khusus pasien COVID-19 di Taman Cinta Puskesmas Kecamatan Duren Sawit, Jakarta, Kamis (7/1/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Tingkat kematian untuk virus Nipah mencapai 75 persen dan belum ada vaksin.

SuaraBali.id - Negara di Asia terancam virus Nipah, tak kalah mematikan dari COVID-19 yang menyerang dunia dan belum berakhir. Tingkat kematian untuk virus Nipah mencapai 75 persen dan belum ada vaksin.

Akankan virus nipah masuk Indonesia? Dari mana asal virus nipah?

Pada Januari 2020, Supaporn Wacharapluesadee menjadi salah satu peneliti yang ditunjuk pemerintah Thailand untuk menganalisis sampel dari penumpang pesawat yang baru tiba dari Wuhan. Ia dan timnya berhasil mendeteksi kasus pertama Covid-19 di luar China.

Wacharapluesadee adalah pemburu virus kelas wahid. Ia memimpin Thai Red Cross Emerging Infectious Disease-Health Science Centre, lembaga penelitian yang meneliti penyakit-penyakit infeksi baru (emerging), di Bangkok. Selama 10 tahun terakhir, ia menjadi bagian dari Predict, ikhtiar global untuk mendeteksi dan menghentikan penyakit yang dapat melompat dari hewan ke manusia.

Baca Juga: Meningkat, Positif Covid-19 di Sumut Tembus 20.403 Kasus

Ketika mendeteksi Covid-19, Wacharapluesadee dan timnya mendapati bahwa - selain merupakan virus baru yang tidak berasal dari manusia - virus tersebut berkerabat dekat dengan jenis virus corona yang telah ditemukan pada kelelawar.

Sepanjang kariernya, Wacharapluesadee dan para koleganya telah meneliti ribuan sampel kelelawar dan menemukan banyak virus baru. Sebagian besarnya adalah virus corona, tapi juga ada banyak penyakit mematikan lain yang dapat menular ke manusia.

Salah satunya adalah virus Nipah. Virus ini dibawa oleh kelelawar buah, yang merupakan inang alaminya.

"Ini sangat mengkhawatirkan karena belum ada obatnya... dan tingkat kematian yang disebabkan virus ini tinggi," kata Wacharapluesadee. Tingkat kematian virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung lokasi terjadinya wabah.

Bukan cuma Wacharapluesadee yang khawatir. Setiap tahun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meninjau daftar panjang patogen yang dapat menyebabkan darurat kesehatan masyarakat untuk memutuskan prioritas anggaran riset dan pengembangan mereka.

Baca Juga: Percepat Vaksinasi, Andi Arief Usul TPS Jadi Lokasi Penyuntikan Vaksin

Mereka fokus pada patogen yang paling mengancam kesehatan manusia, yang berpotensi menjadi pandemi, dan yang belum ada vaksinnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait