- Reski Damayanti menyatakan dalam seminar di Bali pada 19 September 2026 bahwa kejahatan AI dan scam merugikan finansial sangat besar di Asia Tenggara.
- Indosat mengembangkan sistem anti spam berbasis machine learning dan telah menghentikan ratusan juta komunikasi terindikasi scam dalam tiga bulan terakhir.
- Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor serta tata kelola untuk memperkuat perlindungan konsumen digital.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2 miliar traffic terdeteksi sebagai spam dan scam.
Fase pertama ini menempatkan deteksi sebagai lapisan awal perlindungan. Sistem mempelajari pola komunikasi untuk mengidentifikasi aktivitas yang memiliki indikasi mencurigakan sehingga pelanggan dapat memperoleh peringatan.
“Ini adalah menggunakan teknologi kita mengidentifikasi mutasi pattern recognition, dan untuk menghampiri komunikasi yang mungkin terindikasi spam atau scam yang telah kami kerjakan dari tahun lalu,” jelas Reski.
Indosat kemudian mengembangkan pendekatan tersebut ke fase kedua, yakni melakukan proof of concept (PoC) untuk memblokir SMS scam sebelum pesan tersebut diterima pelanggan.
Dalam tiga bulan pelaksanaan fase kedua, Indosat memproses sekitar 754 juta traffic SMS.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 224 juta SMS teridentifikasi sebagai scam dan berhasil diblokir sebelum diterima pelanggan.
Artinya, pendekatan perlindungan mulai bergeser dari sekadar memberikan peringatan kepada pelanggan menjadi pencegahan langsung di dalam jaringan.
Dengan mekanisme tersebut, pelanggan tidak lagi menjadi satu-satunya pihak yang harus mengenali pesan berbahaya setelah pesan masuk ke perangkat.
Bagi Indosat, langkah tersebut juga menjadi bagian dari tanggung jawab dan transparansi perusahaan dalam memberikan perlindungan kepada pelanggan di tengah meningkatnya risiko kejahatan digital.
Baca Juga: Pertumbuhan Pengguna Indosat di NTB Meroket, Meski Masih Ada PR Area Tanpa Sinyal
Scam Tak Bisa Dilawan dengan Literasi Saja
Besarnya volume komunikasi yang harus diproses menunjukkan kompleksitas tantangan yang dihadapi industri telekomunikasi.
Dalam enam bulan pada fase pertama, terdapat sekitar 11 miliar data traffic voice dan SMS yang diproses. Sekitar 2 miliar di antaranya terdeteksi sebagai spam dan scam.
Sementara pada fase kedua, dalam waktu tiga bulan, sebanyak 754 juta traffic SMS diproses dan 224 juta SMS scam berhasil dihentikan sebelum sampai ke pelanggan.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa pertahanan terhadap scam membutuhkan kemampuan teknologi untuk bekerja pada skala besar.
Literasi digital tetap diperlukan agar masyarakat mampu mengenali berbagai modus penipuan. Namun, perlindungan konsumen juga dapat dilakukan sebelum masyarakat berhadapan langsung dengan pesan atau komunikasi berbahaya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Aktifkan Fitur End-to-End Encryption WhatsApp, Pastikan Obrolan Rahasiamu Bebas Sadap
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- Jokowi: Saya Disadap, Tapi Saya Diam Saja
- 5 Sepatu Jalan Lokal Tanpa Tali yang Nyaman dan Anti Jebol Menurut Review
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa POM TNI, Soal Penyadapan Prabowo?
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
Berikan Akses Pendidikan Berkualitas, BRI Private dan BRI Prioritas Hadirkan Privilege Khusus
-
Dua WN China Curi Uang Bule Australia Rp27 Juta di Penerbangan Jakarta-Denpasar
-
Karyawan Maskapai di Bandara Bali Tilap Duit Perusahaan Rp600 Juta untuk Judol
-
Pendidikkan Coding Wajib di 2027, Potensi Pengembangan AI Indonesia Dilirik Investor Polandia
-
2 Orang Meninggal Tiap 5 Menit, Kemenkes Temukan 3 Varian Baru TBC di Indonesia