Muhammad Yunus
Kamis, 27 Agustus 2026 | 08:47 WIB
Foto gambar video ikan oarfish yang dikenal sebagai ikan 'kiamat' yang ditemukan pengunjung terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Selasa (25/8/2026) [SuaraBali.id/ANTARA]
Baca 10 detik
  • Kepala Brida NTB I Gede Putu Aryadi menyatakan ikan oarfish ditemukan terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur, pada Selasa, 25 Agustus.
  • Fenomena alamiah tersebut disebabkan oleh penurunan kondisi fisik ikan akibat faktor kesehatan, cedera, usia tua, serta pengaruh arus laut.
  • Pihak Brida mengimbau masyarakat agar tidak panik atau mengaitkan peristiwa biologis tersebut dengan mitos bencana alam.

SuaraBali.id - Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) NTB mengungkapkan munculnya ikan oarfish yang dikenal sebagai ikan "kiamat" yang ditemukan terdampar di Pantai Pink, Lombok Timur pada Selasa (25/8) merupakan fenomena alamiah dan bukan penanda bencana.

"Terdamparnya oarfish ke wilayah pesisir umumnya dipicu oleh penurunan kondisi fisik ikan itu sendiri," ujar Kepala Brida Nusa Tenggara Barat (NTB) I Gede Putu Aryadi di Mataram, Rabu 26 Agustus 2026.

Menurut Aryadi, terdapat beberapa faktor biologis yang mendasari fenomena tersebut, di antaranya faktor kesehatan dan usia.

"Ikan yang mengalami penyakit, cedera fisik seperti patah tulang, atau sudah memasuki usia tua akan kehilangan kemampuan berenang secara optimal," kata Aryadi.

Selain itu, faktor selanjutnya pengaruh arus. Ikan yang dalam kondisi lemah tidak lagi mampu melawan arus laut dalam, sehingga perlahan terbawa ke perairan dangkal hingga akhirnya terdampar di pantai.

"Jasad ikan yang masih kokoh akan mengapung dan terbawa gelombang hingga ke tepi. Sementara itu, jasad yang mati di tengah laut biasanya akan hancur, kecuali jika struktur fisiknya masih cukup kuat untuk bertahan selama perjalanan migrasi yang panjang," ungkapnya.

Aryadi mengimbau masyarakat agar tidak panik atau menghubungkan fenomena ini dengan mitos hari kiamat maupun bencana alam besar, seperti gempa NTT.

"Studi ilmiah, termasuk riset dari Jepang, menunjukkan bahwa mayoritas kasus terdamparnya ikan laut dalam adalah murni kejadian biologis," ujar Aryadi.

Ia mengemukakan faktor lingkungan seperti suhu air laut yang rendah, arah arus, dan kondisi gelombang memegang peranan penting dalam menentukan apakah bangkai ikan akan sampai ke pantai atau tidak.

Baca Juga: Naskah Kuno hingga Keris Pusaka Ludes di Desa Adat Sade, Pemerintah Siapkan Rencana Pemulihan Total

Peristiwa ini mirip dengan kasus terdampar-nya paus di Bima yang kerap terjadi sebagai dinamika alam biasa.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau untuk menyikapi fenomena ini secara rasional dengan mengacu pada riset serta publikasi ilmiah yang valid bukan karena mitos atau tahayul.

Load More