Muhammad Yunus | Eviera Paramita Sandi
Jum'at, 31 Juli 2026 | 12:57 WIB
Petani Kakao, I Ketut Sudomo di kebunnya yang terletak di Banjar Modingsari, Desa Candikusuma, kecamatan Melaya, Jembrana, Bali [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]
Baca 10 detik
  • I Ketut Sudomo tekun menjadi petani kakao di Jembrana, Bali, sejak 1986 hingga kini berhasil meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
  • Lonjakan harga kakao global dan bantuan koperasi membuat anak Sudomo berhenti bekerja sebagai pemandu wisata untuk melanjutkan usaha pertanian.
  • Kebun Sudomo menerapkan sistem tumpang sari dan peternakan kambing organik untuk menjaga kesuburan tanah serta meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

“Selain itu bapak sudah tua, kalau semua anaknya kerja di hotel, lalu siapa yang meneruskan?” katanya.

Hingga saat ini, Sudomo memanfaatkan 1 hektare lahan di rumahnya tersebut khusus untuk tanaman kakao. Bila musim panen tiba, Sudomo yang kini dibantu oleh Yayasan Kalimajari melalui Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) mampu mengangkut 500 kilogram biji kakao basah untuk difermentasi dan dijual.

Perempuan anggota koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) Jembrana saat melakukan sortasi kakao, Kamis (30/7/2026) [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]

Sudomo yang merupakan petani tradisional pun kini bisa mulai hidup tenang karena kakaonya mampu membiayai kehidupannya sehari-hari, membiayai sekolah anak bahkan uangnya digunakan juga untuk mengembangkan usahanya dengan menambah lahan sebagai aset berharga.

Menjelma Menjadi Lahan Tumpang Sari

Bertani dengan hanya mengandalkan satu komoditas seperti halnya kakao bisa jadi sangat rentan. Apalagi cuaca di Indonesia yang kini tidak menentu dan harga pasaran kakao yang bisa berubah sewaktu-waktu bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan kebun Sudomo ke depannya.

Untuk itu, Sudomo tidak hanya mengandalkan satu tanaman dan melakukan diversifikasi dalam satu lahan.

Bila satu hektare lahan Sudomo ditanami kakao, 2 hektarenya lagi ia gunakan untuk tanaman lain. Di antaranya kelapa dan pisang. Uniknya vegetasi yang berbeda-beda ini bukannya mengganggu kehidupan tanaman kakao tapi justru menjadi pendukung.

Menurut Direktur Yayasan Kalimajari, Agung Widyastuti konsep ini dinamakan dynamic agroforesty atau dalam bahasa lokal disebut Tumpang Sari yang merupakan sistem pengolahan lahan dengan menggabungkan penanaman pohon atau tanaman berkayu dengan tanaman pertanian atau peternakan secara bersamaan di atas lahan yang sama.

Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Baca Juga: Peringatan Hari Mangrove Sedunia, 15 Ribu Bibit Pohon Disebar di Batu Lumbang Tahura Ngurah Rai

“Hal ini memungkinkan petani tidak menggantungkan hidup pada hasil dari kakao saja. Dan bisa mengamankan pendapatan petani dan keluarga bila terjadi perubahan atau belum musim panen kakao,” jelasnya dalam acara media visit di kebun Sudomo.

Ia mencontohkan di Bali sangat membutuhkan daun pisang untuk membuat canang, bungkus Nasi Jinggi dan lainnya. Pisangnya bisa dijual atau dikonsumsi. Sedangkan limbah daun pisangna bisa dijadikan kompos atau melembabkan tanah ketika kemarau panjang.

Sedangkan kelapa juga bisa dimanfaatkan daunnya, buahnya hingga batang pohonnya. Bagusnya lagi keragaman vegetasi ini bisa menjadi penaung kakao dan mempengaruhi hasil biji kakao itu sendiri.

Tanaman ini dinilai tidak berlawanan bahkan bisa membuat keunikan rasa dan aroma yang unik.

Co-Founder Pipiltin Cocoa, Tissa Aunilla saat melakukan panen kakao di Jembrana, Bali, Kamis (30/7/2026) [Suara.com/Eviera Paramita Sandi]

Tak hanya sampai di situ, lahan Sudomo ini juga menerapkan dari alam kembali ke alam. Di bagian lainnya, ia juga melakukan peternakan kambing. Ada banyak kambing yang dipelihara di kandang.

Pakan kambingnya pun dibuat dari limbah cacahan kakao dicampur limbah daun pisang dan lamtoro yang membuat kambing-kambing tersebut kata Sudomo makan dengan sangat lahap. Selain itu kotorannya pun dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang membuat tanah kebunnya semakin subur.

Load More